Social Icons

Pages

Jejak Jejak Tuhan

AKAL DAN JEJAK TUHAN


Apakah bila semakin cerdas orang akan bisa mengenali dan mengakui keberadaan Tuhan? Atau sebaliknya semakin bodoh maka orang semakin tidak mampu mengenali bayangan jejak-jejak Tuhan? Kami tergelitik untuk menanyakan hal ini karena jaman kita diliputi oleh semangat memaksimalkan peranan kecerdasan otak, tidak hanya di lingkungan lembaga pendidikan formal tetapi juga sampai di sel terkecil hubungan sosial manusia yaitu keluarga.
Tidak bisa dipungkiri, dunia pendidikan saat ini harus merespon tuntutan global untuk bersaing di era pasar bebas. Yaitu sebuah era yang ditandai dengan semakin majunya teknologi karena kreativitas dan inovasi untuk meraih keunggulan finansial dan ekonomi. Dunia pendidikan yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi global dipastikan akan gulung tikar dan tidak lagi diminati oleh masyarakat.
Mereka yang tidak kreatif dan inovatif akan juga dilibas jaman. Mereka akan tersingkir dari bursa-bursa lowongan kerja dan kemudian tidak mampu berbuat banyak untuk mengubah keadaan. Kemiskinan itu sangat tidak nyaman sehingga wajar dan manusiawi bila orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kerja yang paling ideal dan paling banyak menghasilkan uang.
Bursa-bursa kerja akan terus terbuka bagi mereka yang kreatif, profesional, memiliki dedikasi dan integritas yang tinggi. Apalagi ditunjang dengan pendidikan yang tinggi, bagus dan terkenal. Lihatlah iklan lorongan pekerjaan di media massa. Rata-rata mensyaratkan agar pelamarnya berasal dari perguruan tinggi yang terkenal (ada jaminan otaknya encer?), usia muda, berpenampilan menarik dan sukur-sukur berwajah cantik.
Begitulah, kecerdasan otak menjadi hal yang wajib untuk dipenuhi oleh jaman nanoteknologi saat ini. Dan dalam psikologi, kecerdasan otak memiliki standar yaitu Intelligent Quotient (IQ). Rumus IQ adalah IQ = MA/CA x 100%. MA adalah Usia Mental dan CA adalah usia kronologis. Semakin tinggi Usia Mental dibanding dengan Usia Kronologis maka IQ orang tersebut akan tinggi dan semakin cerdaslah orang tersebut.
Banyak dijumpai saat ini anak jenius, yaitu anak yang usia mentalnya melebihi usia kronologis anak sebayanya, gaya bicara dan berpikirnya seperti orang tua, bahkan banyak yang sudah hapal Kitab Suci. Tapi banyak pula lahir anak idiot, yaitu anak yang usia mentalnya tertinggal dibanding usia kronologis teman-teman sebaya mereka.
Boleh dikatakan abad 21 adalah abad dimana otak telah dijadikan pusat orientasi. Dengan Otak yang encer maka semua solusi hidup bisa dipecahkan, namun sebaliknya dengan otak yang bebal maka solusi menjauh, justeru yang datang adalah masalah demi masalah. Untuk mencapai kebahagiaan dan kepuasan hidup maka tidak ada cara lai selain harus mengasah ketajaman otak setajam-tajamnya.
Kita tidak menyangkal titik orientasi jaman yang sudah berubah ini.
Sejarah membuktikan orientasi manusia telah bergeser dari alam semesta (kosmosentrisme), dari Tuhan (teosentrisme), dari manusia (antroposentrisme), untuk memasuki wahana bahasa (logosentrisme) yang merupakan permainan artikulasi dan representasi dari isi otak dan pikiran manusia. Logosentrisme memiliki ciri utama yaitu reperesentasi, hanya wakil dari realitas. Bukan realitas itu sendiri sehingga yang terjadi adalah realitas maya/jadi-jadian dan dibuat lebih (hiper).
Otak memiliki kecenderungan untuk memilah, memilih, membedakan satu dengan yang lain, mengkanalisasi setiap hal dalam kategori-kategori. Ini adalah kegiatan menganalisa. Otak juga memiliki kemampuan yang hebat untuk mensintesakan, menyimpulkan dari kegiatan menganalisa tersebut. Itulah kedahsyatan otak yang terus menerus diasah di bangku-bangku lembaga pendidikan modern dan tradisional, di pondok-pondok pesantren, perguruan-perguruan, padepokan-padepokan dan seterusnya.
Pertanyaannya sekarang apakah kepintaran selalu simultan/seiring/senyampang dengan perkembangan ruhani untuk mencari hakekat dan jati diri individual untuk kemudian akan bisa mendapatkan jawaban-jawaban tentang soal-soal Ketuhanan, Kemanusiaan, Keadilan, Kebebasan, Keadilan dan nilai-nilai lain, dan seterusnya dan seterusnya. Bila sudah mendapatkan jawaban apakah mereka akan semakin bijaksana dalam berperilaku dan berbuat?
Jawaban sementara yang merupakan hipotesis saya sbb: TIDAK ADA JAMINAN. Banyak orang pintar yang kreatif dan inovatif mengolah hidupnya, menguasai banyak materi untuk memenuhi keinginan hidup (bukan kebutuhan hidup) ternyata miskin dan tidak cerdas secara spiritual. Kemandirian dan otonomi manusia bebas manusia untuk menyimpulkan SANGKAN PARANING DUMADI ternyata tersingkir/tercampakkan untuk memenuhi hasrat manusia akan materi yang dianggapnya sumber kebahagiaan. Manusia seperti ini akan limbung dan berjalan tanpa arah serta tujuan hidup yang lurus. Ia tidak mampu mengenali jejak-jejak kehadiran Tuhan baik yang ada dalam dirinya sendiri (Mikrokosmos) dan juga yang ada di alam semesta (Makrokosmos)
Mari kita amati. Kebetulan, sehari-hari saya bekerja melayani masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai yang hanya lulus SD, hingga tamat perguruan tinggi strata dua. Jenis dan jenjang status sosial serta pangkat dan derajat yang beragam pula. Apakah mereka yang berpangkat, memiliki jabatan dan pendidikan tinggi ternyata memiliki jiwa kemanusiaan yang lebih tinggi daripada mereka yang hanya lulus SD? Tidak bukan. Selanjutnya, tidak ada jaminan pula yang satu akan lebih tinggi tahapan pencapaian spiritualitasnya.
Adalah sangat tidak adil bila Tuhan ternyata mengistimewakan yang satu dan bersikap pilih kasih. Bila Tuhan Maha Adil, maka dia akan menciptakan manusia menjadi individu-individu sesuai dengan kapasitasnya dan mengadili sesuai dengan kapasitasnya pula. Misalnya Tuhan menciptakan individu bernama D dan dilahirkan ke dalam keluarga mampu. Sementara di lain tempat dia menciptakan individu bernama S dalam keluarga yang tidak mampu. Nasib selanjutnya kedua individu ini tentusaja sangat tergantung pada batas-batas tertentu meskipun Sumber daya Manusia-nya sudah diolah secara maksimal. Nah, apa dan bagaimana si individu tersebut berhasil untuk menemukan jalan hidup yang sesuai dengan yang digariskan oleh-Nya, terserah kepada individu itu sendiri. Ini tentu sebuah persaingan fair berebut tiket menuju keabadian.
Mengolah hidup tidak hanya dengan memakai akal, pikiran, rasio, otak kiri saja namun juga perasaan, budi, otak kanan untuk mempertimbangkan benar salah. Keduanya perlu dipertajam. Otak kiri dengan cara menganalisa, otak kanan dengan cara merasa, meyakini, mempercayai. Bila keduanya sudah diolah sedemikian hingga tercapai batas maksimal kecerdasan, maka dia pasti akan menemukan apa yang dicari. Berat sebelah menggunakan dua belah otak akan mengakibatkan stress, tertekan, dan bahkan bisa jadi sakit mental.
Adalah sebuah pesan yang perlu dipertimbangkan bahwa bila pikiran kita sedang suntuk maka istirahatkan dengan rekreasi dan refreshing. Bila hati kita sedang gundah dan putus asa maka segarkanlah dengan cara merasakan kedamaian Tuhan. Berkomunikasi intensif sekaligus meminta pertolongan kepada Sang Pemberi Hidayah. Mengenai bagaimana cara yang terbaik untuk berkomunikasi? Terserah Anda.

Rapalan Ajian Waringin Sungsang

AJIAN WARINGIN SUNGSANG


Ajian Waringin Sungsang ini merupakan salah satu “puncak ilmu” kejadukan/ kanoman/ kanuragan yang dimiliki oleh para pendekar digdaya masa lalu.
Ajian Waringin Sungsang memiliki efek yang sangat mematikan. Siapa yang diserang ajian ini akan terserap energi kesaktiannya dan mengalami lumpuh hingga akhirnya roboh tidak berdaya. Dan dengan memiliki ajian ini muncul energi pertahanan kekuatan tubuh yang sangat hebat. Maka, para pendekar yang memiliki Ajian Waringin Sungsang ini bisa dipastikan akan disegani kawan sesama pendekar maupun musuh.
Ajian Waringin Sungsang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Dia juga menciptakan banyak ilmu kedigdayaan lain seperti aji lembu sekilan dan lainnya. Kenapa Sunan Kalijaga menciptakan ilmu kedigdayaan yang begitu banyak?
Salah satu alasan logisnya yaitu pada masa itu banyak kejahatan dari golongan pendekar yang beraliran ilmu hitam dan banyaknya ahli sihir yang mempraktekkan ilmu-ilmu sihir yang menggunakan kekuatan buruk. Mereka berkuasa dan ditakuti oleh masyarakat awam.
Untuk menaklukkan kalangan pendekar berilmu hitam dan meyakinkan kepada masyarakat umum bahwa sumber kekuatan ilmu kanuragan tetap dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini terlihat dari rapal-rapal ilmu kedigdayaan ciptaan Sunan Kalijaga selalu bernuansa religius dan menyertakan “nama” Tuhan.
Ajian Waringin Sungsang memiliki falsafah yang mendalam. Waringin Sungsang berarti pohon beringin yang terbalik dimana akarnya berada di atas, seperti pohon kalpataru. Pohon waringin sungsang ini bermakna sumber kehidupan segala yang ada, sumber kebahagiaan, keagungan, serta sumber asal mula kejadian. Maka pohon ini juga disebut pohon purwaning dumadi atau pohon sangkan paran.
Di dalam waringin sungsang, juga terdapat ular yang melilit pohon tersebut. Ini melambangkan jasmani dan rohani yang telah menyatu dalam perilaku. Maka, seorang pendekar pemilik ilmu waringin sungsang ini adalah orang yang sudah manunggal atau menyatu kehendak lahir dan kehendak batinnya. Ilmu ini hanya dimiliki oleh para pendekar sepuh atau ‘tua’ sehingga tidak digunakan sembarangan karena efeknya yang melumpuhkan.
Pohon berasal dari kayu atau kayon, berasal dari bahasa Arab ‘khayyu’ yang artinya hidup. Dalam ilmu kalam ‘khayyu’ hanya merupakan sifat sejatinya Tuhan. Di dalam Al Quran dinyatakan; “Allahu la illaha illa huwal hayyu qayyum” yang artinya Tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya. (QS, 2, 255).
Karena begitu tingginya falsafah yang terkandung dalam ajian Waringin Sungsang ini, maka hanya kepada para pendekar yang sudah “menyelesaikan” urusan diri sendirilah ilmu ajian ini boleh diwariskan.
Ajian Waringin Sungsang  dirapalkan sebagai berikut:
Sun amatek ajiku Waringin Sungsang
wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami, tur tinuting bala, pinacak suji kembar, pipitu jajar maripit, asri yen siyang, angker kalane wengi.
Duk samana akempal kumpuling rasa, netraku dadi dingin, netra ningsun emas, puputihe mutyara, ireng-ireng wesi manik, ceploking netra, waliker uda ratih.
Idep ingsun kekencang bang ruruwitan, alisku sarpa mandi, kiwa tengen pisan, cupakku surya kembar, kedepku pan kilat tatit, kang munggeng sirah, wesi kekenten adi.
Rambut kawat sinomku pamor anglayap, batuk sela cendani, kupingku salaka, pilingan ingsun gangsa, irungku wesi duaji, pasu kulewang, pipiku wesi kuning.
Watu item lungguhe ing janggut ingwang, untuku rajeg wesi, lidah wesi abang, aran wesi mangangkang, iduku tawa sakalir, lambeku iya, sela matangkep kalih.
Guluku-ningsun paron wesi galigiran, jaja wesi sadacin, pundak wesi akas, walikat wesi ambal, salangku wesi walulin, bauku denda, sikutku pukul wesi.
Asta criga epek-epek ingsun cakra, cakar wok jempol kalih, panuduh trisula, panunggulku musala, mamanisku supit wesi, jentikku iya, ingaran pasopati.
Bebokongku sela ageng kumalasa, akawet wesi gilig, ebol-ingsun karah, luput denda kang tinja, balubukan entut mami, uyuhku wedang, dakarku purasani.
Jembut kawat gantungaku wesi mentah, walakang wesi gapit, pupu kalataka, sungsum ingsun gagala, ototku gungane wesi, ing dalamkan, ingaran kaos wesi.
Sampun pepak sarira-ningsun sadaya, samya pangawak wesi, pan ratuning braja, manjing aneng sarira, tan ana braja ndatengi, dadya wiyana, ayu sarira mami.
Ana kidung sun-angidung bale anyar, tanpa galar asepi, ninis samun samar, patining wuluh kembang, siwur burut tanpa kancing, kayu trisula, gagarannya calimprit.
Sumur bandung sisirah talaga mancar, tibeng jaja ajail, dinding endas parah, ulur-ulur liweran, tatambang jaringing maling, dadal dadnya, gagulung ing gagapit.
Naga raja pangawasan manik kembang, kembang gubel abaji, tajem neng kandutan, udune sarwi nungsang, kurangsangan angutipil, angajak-ajak.”

Rapalan Ajian Tameng Waja

AJIAN TAMENG WAJA

Ini ajian dahsyat untuk kekuatan badan dan kekebalan. Tubuh kita akan dilapisi oleh tameng besi baja yang begitu hebat.  Saya (wongalus) pada suatu kesempatan  tanpa dinyana dan diduga sebelumnya malah mendapatkan khodam ajian ini tanpa laku sebelumnya… ya.. Tuhan Maha Pemberi!

Orang yang menguasai ajian ini tidak akan mempan diserang senjata tajam atau bahkan senjata api sekalipun. Untuk menguasai ajian piandel para pendekar ini tidaklah mudah, sebab diperlukan laku yang sangat berat yaitu sebagai berikut:
Pada awal bulan Muharrom (2 Suro) mulai menjalani puasa 40 hari tanpa putus, puasa ini dilakukan sebanyak 3x bulan Muharrom atau 3 tahun berturut-turut. Selama menjalani puasa, setiap tengah malam habis sholat tahajjud membaca mantra rapalan Ajian tameng waja sebanyak 21x kali pada seember air yang selanjutnya digunakan untuk mandi keramas. Selama menjalani puasa, setiap habis sholat fardhlu (Isya’) dilanjutkan dengan Sholat Sunat dan membaca istighfar sebanyak 1000 x agar jiwa benar-benar bersih dari niat jahat. Berikut rapalan Ajian Tameng Waja:
Bismillahirrohmanirrohiim, Niat Ingsun amatek Aji Tameng Waja Klambiku Wesi Kuning, Sekilan Segemblok Kandhele Ototku Kawat Balungku Wesi Kulitku Tembaga, Dagingku Waja Kep-Karekep Barukut, Kinemulan Waja inten Mekangkang Sacengkal, Sakilan, Sadempu Sakehing braja datan nedasi Mimis bedhil nglumpruk kadi kapuk Tan tumowo ing badanku Saka kersaning Allah,… Ya Qowiyyu, Ya Matiin (3x).

Rapalan Ajian Sodo Telu

AJIAN SODO TELU


Assalamu’alaikum ki wong alus, para sesepuh, dan poro sedulur kwa yg saya cintai dan di mulyakan ALLAH ijinkan saya yg miskin ilmu ini berbagi sedikit amalan sbg sarana ikhtiyar kerejekian.ilmu ini saya dpt dr perguruan suryo pitu kudus di bawah asuhan ustad muhammad teguh pranoto al hafidz.ajian ini tanpa laku puasa.amalanya yaitu: SETIAP AKAN KULAKAN,BUKA WARUNG,ATAU MENJAJAKAN DAGANGAN MEMBACA SYAHADAT MENGHADAP BARAT 18X.UTARA 18X.TIMUR 18X. SELATAN 18X. InsyaAllah rejeki akan datang dr segala penjuru. Bagi poro sedulur kwa monggo di amalkan. Wassalamu’alaikum. SINGO LUEDRO. 

Rapalan Ajian Suket Kalanjana

AJIAN SUKET KALANJANA


Bagi para leluhur Jawa yang waskita, memiliki kemampuan melihat alam gaib adalah suatu keharusan.

Para leluhur yang waskita ini adalah mereka yang menggunakan seluruh potensi yang sudah dimiliki sejak awal. Potensi itu berupa rasio/akal, budi, rasa/batin hingga kesadaran ruh. Dengan menggunakan seluruh potensi yang tersedia, maka kita tidak hanya memiliki kecerdasan akal, kecerdasan mental/emosi namun juga kecerdasan spiritual. Semuanya terangkum dalam kata; menjadi orang yang Bijaksana atau Wicaksana.
Di Jawa, kita mengenal sebuah ajian yang sangat langka untuk melihat alam gaib yang dihuni oleh makhluk halus gendruwo, buto ijo dan teman-temannya. Nama ajian itu Aji Suket Kalanjana. Ajian ini adalah untuk mengoptimalkan potensi rasa pangrasa/batin hingga bisa “melihat” apa yang tidak bisa “dilihat” oleh orang lain.
Untuk memiliki ajian ini maka orang harus menjalani laku yang berat yaitu puasa 40 hari, patigeni sehari semalam mulai hari Kamis Kliwon. Mantra dibaca setiap jam 12 malam selama menjalani puasa dan patigeni.
Mantranya sebagai berikut:
“Niat ingsun amatek ajiku si suket kalanjana, aji pengawasan soko sang hyang pramana, byar padhang jumengglang paningalingsun, sakabehing sipat podho katon saking kersaning Allah”
Cara matek aji kalanjana: mantra dibaca dalam hati.  Tangan kanan ditempelkan di ulu hati dan tangan kiri diusapkan ke mata 3 x.

Rapalan Ajian Sirep Begananda

AJIAN SIREP BEGANANDA


Ini ilmu para maling  atau pencuri  saat  akan melakukan aksi masuk rumah korban pada malam hari tanpa diketahui karena seluruh penghuni rumah tidak akan mampu bangun karena terlelap tidur.  Ya, para pencuri memiliki ajian ampuh yang bernama AJI SIREP BEGANANDA.

Untuk memiliki ajian hebat ini, mereka harus puasa mutih 21 hari atau 40 hari dan meneruskan dengan puasa pati geni 3 hari atau 7 hari, yang dimulai dengan hari Rabu Pon.
Mantra Aji Begananda sebagai berikut:
Hong ingsun amatak ajiku sirep begananda kang ana indrajit, kumelun nglimuti ing mega malang, bul peteng dhedet alimengan upas racun daribesi, pet pepet kemput bawur wora wari aliweran tekane wimasara, kang katempuh jim setan peri prayangan, gandarwa, jalma manungsa tan wurung ambruk lemes wuta tan bisa krekat, blek sek turu kepati saking kersane Allah.
Saat membaca aji, pencuri berdiri di depan rumah yang akan disirep, setelah membaca mantra, dia menunggu sesaat sambil  mengundang turunnya khodam sirep tersebut.
Untuk mengundang khodam, baca:
hong mret mret nuli tumungkul ing pratiwi
sambil menjejakkan kaki ke tanah tiga kali tanpa bernafas.
Ingin mempraktekkan  ajian ini? Sabar dulu… sebab jangan-jangan sang penghuni rumah sudah memiliki ajian penawar ajian sirep begananda yang bernama Aji Dipa.
Salam. Rahayu.

Rapalan Ajian Nini Blorong

AJIAN NINI BLORONG

Hidup seperti roda yang berputar. Kadang di atas namun kadang pula di bawah. Suatu ketika, kita merasa mendapatkan rezeki yang berlimpah namun pada kesempatan lain kita merasa rezeki yang kita terima sangat sedikit.

Namun sesungguhnya, rezeki dari-Nya tidak pernah benar-benar habis bahkan bila kita mau mensyukurinya setiap detik, maka kita akan bisa merasakan betapa Dia Maha Pemberi Rezeki yang tidak pernah melupakan kita. Detik ini, coba hitung berapa banyak kita menerima rezeki-Nya secara gratis: udara yang kita hirup, kesehatan, panjang umur, maupun Nyawa….
Bersyukur adalah sebuah maqam yang tinggi. Namun, bila masih belum mampu bersyukur dengan merasakan banyaknya rezeki yang kita terima, ini ada amalan untuk memohon rezeki. Yang perlu disadari, rezeki yang kita terima tidak serta merta gratis begitu saja. Rezeki adalah akibat dari kerja keras banting tulang. Maka, amalan ini tidak berlaku bagi mereka yang pemalas.
Cara mengamalkannya: puasa mutih 7 hari 7 malam dan dilanjutkan dengan puasa patigeni sehari semalam. Mulai puasa pada hari Jum’at Pahing. Mantranya dibaca setiap jam 12 malam di muka rumah (halaman/teras). Ini mantranya:
“Ingsun amatek ajiku si nini blorong,
Nini blorong tak tempuhake anyukupi sandhang pangan kang agung, Amboyongo sri sadono wadahono ing gedhong rojobrono,
Sakehing pangan lebokno ing lumbung gumuling,
Ojo asat ing saklawase soko kersaning Allah”
 
 
Blogger Templates