Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label KEPRIBADIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEPRIBADIAN. Tampilkan semua postingan

Kepribadian KH. Susila Budhi Dharma

SUSILA BUDHI DHARMA

SUSILA BUDHI DHARMA


Salah satu aliran kepercayaan asli Indonesia bernafaskan Kejawen Islam ini sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Jauh sebelum era globalisasi dan pasar bebas, SUSILA BUDHI DHARMA telah tersebar di 80 negara dengan anggota 20 ribu orang.
subuh
Nama Indonesia sebenarnya tidak jelek di dunia internasional. Negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja dan kini sedang sedih karena berbagai aksi radikalisme, anarkisme dan nasionalisme yang memudar ini, sebenarnya menyimpan kekuatan spiritual yang justeru diakui di dunia internasional. Kekuatan spiritual ini bisa jadi cara olah batin untuk mengubah dunia. Salah satu bukti statemen itu adalah diterimanya salah satu aliran kebatinan Jawa (Kejawen) di dunia internasional sejak puluhan tahun yang lalu.
Subud didirikan oleh almarhum R. M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo. Bapak (panggilan akrabnya di kalangan Subud) menerima latihan secara spontan (dalam khasanah internal Kebatinan dikatakan telah menerima WAHYU. Sebutan ini dari kacamata Agama Islam dinilai agak kurang PAS karena yang menerima wahyu hanya para nabi. Lebih tepatnya menerima ilham) pada tahun 1925, saat berumur 24 tahun. Subuh bercerita saat dia menerima wahyu: “Saat itu Bapak (Subuh menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Bapak bukan “saya” atau “Kami” seperti kebanyakan orang) bekerja di kantor melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Tahu-tahu semua itu berhenti, berakhir. Akal tidak bekerja lagi. Kemudian Bapak menerima seperti yang akan Saudara terima di dalam latihan. Bapak tidak mencari ilmu, karena tidak mempunyai guru atau pengajar. Bapak hanya sekadar menerima, dan itu disebut Mukjizat Allah, Anugerah Tuhan. Itu hanya diberikan kepada orang kalau orang itu tidak mencarinya, sepi ing pamrih. Kalau seseorang menyerah dan pasrah dalam menerima Anugerah Tuhan, maka Tuhan akan memberi Anugerah-Nya…”
Inilah awal sejarah Subud yaitu ketika almarhum R. M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo mendapatkan pengajaran langsung dari Tuhan. Kontak ini disusul dengan masa tiga tahun yang ditandai gejolak luar biasa di dalam jiwanya. Pada akhir masa itu, doanya terkabul dengan diperolehnya petunjuk bahwa karunia yang telah diterima beliau tidak hanya untuk dirinya sendiri dan dapat dibagi-bagikan kepada siapa saja yang berminat. Hanya disyaratkan bahwa anggota tidak boleh dicari-cari. Delapan tahun kemudian sejak diterimanya wahyu pertama tersebut, pada tahun 1933 Muhammad Subuh menamakan apa yang diterimanya ini sebagai LATIHAN KEJIWAAN. Subud sebagai organisasi kemudian dibentuk dan resmi berdiri tanggal 1 Pebruari tahun 1947 di Yogyakarta. Pada tanggal 23 Juni 1987, Muhammad Subuh dipanggil Sang Khalik di Jakarta dalam usia 86 tahun.
Muhammad Subuh dikenal para pengikutnya sebagai orang yang winasis, sakti dan waskita. Salah satu hal yang penting sebagai tonggak yang membesarkan organisasi ke dunia Internasional yang dipimpin Subuh ini adalah peristiwa sembuhnya Eva Bartok, artis Inggris setelah sakit bertahun tahun. Secara pribadi Subuh dikenal pula bertangan dingin dan mampu mengobati berbagai macam penyakit hanya dengan memasrahkan segala penyakit ke Tuhan. Apa komentar Subuh saat bisa menyembuhkan Eva Bartok? “Itu bukan Bapak yang menolong atau menyembuhkannya. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti kepada Tuhan Allah, dan dia sembuh. Eva menjadi sehat, dan segala-galanya berakhir dengan baik. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti. Kesehatan seseorang adalah perkara antara orang itu dan Tuhan Allah. Orang lain tidak dapat turut campur tangan…”
Bagi pengagumnya, figur Subuh tak hanya pribadi yang mempesona auranya, tapi lebih-lebih pesona spiritualnya. Maklum, Subuh bisa di-artikan sebagai Subud, nama kondang di peta spiritualitas. Subud adalah sejenis latihan spiritual yang diperoleh Subuh melalui sebuah pengalaman gaib pada 1925. Jalan spiritual itu kemudian disebut latihan kejiwaan Subud, kependekan dari Susila Budhi Dharma. Inti latihan kejiwaan itu berupa pasrah kepada Tuhan.
Manusia, menurut Subud, memiliki akses langsung dan cara yang unik untuk berhubungan dengan Tuhan. Subud, menurut Suryadi Haryono, penasihat Yayasan Susila Dharma Indonesia, bukan agama, ajaran, atau sejenis meditasi. Sebagian kalangan muslim memandang Subud, seperti aliran kebatinan umumnya, mengabaikan syariat. Benarkah? “Subud tidak bermaksud memisahkan manusia dari agamanya. Justru melalui proses pembersihan diri ala Subud, orang semakin mengamalkan ajaran agama,” kata Suryadi.
Idries Shah (1926-1996), penulis tasawuf kelahiran India, pernah menyatakan bahwa Subud adalah bentuk popularisasi dari tasawuf dan latihan kejiwaan. Subud tak ubahnya olah batin cara sufi. Muhammad Subuh memang pernah berguru kepada Kiai Abdurrahman, guru tarekat Naqsabandiyah di Kota Semarang. Namun, Subuh menolak penilaian keterkaitan antara Subud dan tasawuf. Dalam otobiografinya, Subuh menyatakan bahwa latihan kejiwaan tak diperoleh dari manusia. Sebagai organisasi, Subud berdiri secara
resmi pada 1947 di Kota Yogya. Pada 1957, markas Subud berpindah ke kawasan Cilandak, Jakarta. Pengikut Subud hingga 1950-an masih terbatas di Pulau Jawa. Pada 1995, jumlah mereka secara nasional sekitar 15 ribu orang, demikian menurut esai ilmiah Robert J. Kyle dari Jurusan Arkeologi dan Antropologi Universitas Nasional Australia. Mereka tak hanya datang dari berbagai kelas sosial, tapi juga dari penganut agama resmi di Indonesia: Islam, Katolik, Protestan, Buddha, dan Hindu.
Sejak 1957, ratusan orang di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia mulai masuk Subud. Penyebaran ini berkat artikel-artikel di koran dan jurnal Eropa tulisan Husein Rofe, ahli bahasa asal Inggris yang pernah berguru kepada Subuh. Juga buku-buku lain. Kini jumlah anggota Subud diperkirakan 20 ribu orang, yang tersebar di 80 negara. Mereka membentuk organisasi nasional di negara masing-masing dan secara internasional mendirikan World Subud Association. Lalu, ada juga organisasi Susila Dharma Internasional, yaitu lembaga swadaya masyarakat yang berafiliasi pada organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di Indonesia, pengikut Subud ber-organisasi di bawah Yayasan Susila Dharma Indonesia. Dan kini pelatih spiritual tertingginya adalah Siti Rahayu Wiryohudoyo, anak tertua Subuh.
Subud adalah bagian dari pertumbuhan mistisisme atau sebut saja gerakan kebatinan di Jawa pasca kemerdekaan. Mereka yang terdaftar di meja birokrasi pemerintah pada 1970-an berjumlah 350 kelompok. Nama kelompok itu antara lain Sumarah, Sapta Darma, dan Pangestu. Hanya Subud yang mendunia. Fenomena itu, menurut studi Robert J. Kyle, adalah bagian dari pencarian identitas budaya menghadapi gemuruh modernitas yang mulai menyentuh Indonesia. Ada berbagai pandangan dari beberapa pengamat, misalnya Koentjaraningrat, tentang faktor kemunculan gerakan kebatinan di Jawa. Ada yang memandang gerakan itu sebagai pelarian psikologis masyarakat dalam menghadapi kerasnya kondisi sosial ekonomi, pe-perangan, kerawanan sosial, dan cepatnya perubahan sosial. Pengamat lain berpendapat itu merupakan bentuk ketidakpuasan terhadap kurangnya toleransi dan kecenderungan ritualistik dari kaum beragama. Kegagalan agama-agama untuk menjadi sumber moralitas juga dituding sebagai biang keladi. “Semua pandangan itu ada benarnya,” kata Robert dalam esai ilmiahnya. Apa pun latar sosiologis kelahirannya, kehadiran Subud terbukti memenuhi dahaga spiritual zaman, terutama di Barat.
***
SUBUD merupakan singkatan SUSILA BUDHI DHARMA. SUSILA menunjukkan sifat insan yang memiliki tabiat manusia yang sempurna sesuai dengan kodrat Tuhan. BUDHI berarti bahwa di dalam diri manusia terdapat suatu daya luhur yang dapat membimbingnya bila ia mampu menginsyafi kehadiran daya tersebut. DHARMA melambangkan penyerahan manusia kepada Kebesaran Tuhan Yang Mahakuasa. Latihan kejiwaan Subud adalah praktek rohani yang merupakan inti eksistensi Persaudaraan Subud. Dalam latihan kejiwaan Subud, si pelatih menyerah sepenuhnya kepada, membuka rasa dirinya kepada, dan mengalami kontak langsung dengan Kekuasaan Tuhan. Selama latihan berlangsung, si pelatih hanya mengikuti apa saja yang timbul dalam rasa dirinya dari saat ke saat. Pengalaman ini bersifat sangat pribadi, sehingga masing-masing pelatih akan mengalami hal-hal yang berbeda-beda. Karena apa yang diterima dalam latihan kejiwaan Subud bersifat sangat khas dan dalam, maka pengalaman-pengalaman para pelatih tidak mungkin digambarkan secara memuaskan dengan kata-kata. Dijelaskan bahwa tujuan utama latihan kejiwaan Subud adalah memberdayakan kita, dengan menyerah kepada Kekuasaan Tuhan serta mengikuti petunjuk-Nya, agar lambat laun dapat mencapai keadaan kodrati kita yang sebenarnya sebagai manusia sempurna, atau insan kamil. Siapa saja boleh masuk persaudaraan Subud asalkan calon anggota sudah mencapai umur 17 tahun, telah menjalankan masa percobaan selama tiga bulan guna mengerti asas dan tujuan Subud, dan tidak ada halangan apa-apa, maka barang siapa akan diterima sebagai anggota Subud.
Subud bukanlah organisasi atau sekte yang eksklusif, karena menerima anggota dari segala macam agama, maupun mereka yang belum beragama. Oleh karena esensi Subud adalah kebaktian kepada Tuhan Yang Mahakuasa, maka tidak ada alasan untuk terjadinya konflik dengan agama yang diyakini. Malah sebaliknya, banyak anggota Subud yang mengaku setelah mengikuti latihan kejiwaan mulai menghayati agamanya sendiri dan menghormati agama-agama orang lain. Latihan kejiwaan Subud dimulai dengan PEMBUKAAN. Selama beberapa bulan setelah dibuka, seseorang yang baru menjadi anggota dianjurkan melakukan latihan dua kali seminggu selama setengah jam. Bila sudah cukup terbiasa menerima latihan, dia akan dibenarkan berlatih tiga kali seminggu.
Latihan kejiwaan Subud dapat dilakukan baik dalam kelompok maupun sendirian. Bila keadaan memungkinkan, idealnya ialah berlatih dua kali seminggu dalam grup dan sekali seminggu seorang diri. Kini, di berbagai komunitas di seluruh dunia terdapat sebanyak 385 grup Subud. Komite-komite setempat mengusahakan sarana latihan. Di sebagian besar negeri tempat Subud berakar ada organisasi nasional yang mengadakan kongres berkala agar para anggota dapat baik bersilatulrahmi maupun berbakti bersama kepada Tuhan Yang Mahaesa. Semua organisasi nasional mengambil bagian dalam Asosiasi Subud Sedunia (World Subud Association, WSA) dan memilih direktur dan pejabatnya. WSA mensponsori kongres internasional yang diselenggarakan tiap empat tahun sekali. Pada tahun 1997 kongres tersebut akan diadakan di kota Spokane, Washington, Amerika Serikat. Kongres-kongres sebelumnya diadakan di Kolombia, Australia, Inggris, Kanada, Jerman, Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.
Dalam salah satu transkrip ceramahnya kepada para calon anggota Subud di Singapura, pada 16 April 1960 Muhammad Subuh mengatakan bahwa Subud bukanlah agama baru, juga bukan sebagian agama yang sudah ada, apalagi suatu ilmu. Subud hanya merupakan lambang cara hidup manusia sempurna. Susila Budhi Dharma oleh sebab itu merupakan lambang tindak-tanduk manusia di dalam latihan kejiwaan Subud, artinya apa saja yang terjadi di dalam latihan kejiwaan Subud sungguh-sungguh merupakan Kehendak Tuhan dan terjadi karena memang demikianlah Kehendak Tuhan atas diri kita. Itu amat cocok dengan kitab bahwa Tuhan selalu dekat pada manusia, atau bahwa manusia sangat dekat pada Tuhan, bahwa Tuhan memberikan apa saja yang dibutuhkan manusia, dan bahwa manusia dapat menerima apa saja yang diberi oleh Tuhan. Apa yang harus kita serahkan kepada Tuhan? “Bukan harta benda kita, bukan apa yang kita cintai, apalagi apa yang kita miliki, karena Tuhan tidak membutuhkan semua itu. Yang harus kita serahkan ialah akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena itu semua merupakan alat-alat yang selalu menghalang-halangi kita kalau mau dekat pada Tuhan..” kata Muhmmad Subuh.
Menurut Subuh, Tuhan memerintah tanpa perkakas atau bahan, sedangkan manusia, kalau mau membuat suatu barang, membutuhkan, misalnya, meja, kayu, paku, martil, dan alat-alat lainnya. Untuk bisa membuat bom atom, manusia membutuhkan alat-alat yang lebih banyak lagi untuk mengubah bahan baku menjadi bom atom. Tetapi semua itu tadi tidak diperlukan Tuhan. Tuhan Allah mencipta tanpa perkakas dan bahan. Di sini terang sekali bahwa untuk dapat mengerti Kehendak Tuhan tidak ada jalan lain buat manusia kecuali betul-betul menyerah, karena hati dan akal pikirannya tidak mungkin akan dapat bertemu dengan Tuhan. “Itulah yang kita lakukan dalam latihan kejiwaan. Kita hanya menyerah saja tanpa menggunakan akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena tugas kita ialah hanya sekadar menerima jatah yang Tuhan catukan kepada kita. Demikianlah dapat dimengerti bahwa Subud itu hanya merupakan lambang kehidupan manusia yang wajib menurut Kehendak Tuhan melulu serta melaksanakan Perintah-Nya di dunia, dan demikian pula di akhirat.” Ujar Subuh.
Itulah karenanya maka dalam mengikuti latihan kejiwaan Subud kita tidak mempunyai ajaran, tidak ada yang perlu kita pelajari, karena yang dihendaki tidak lain kecuali sungguh-sungguh menyerah. Siapa saja yang mengatakan bahwa ia tahu di mana jalan menuju ke Tuhan sebenarnya mendahului pemberian Tuhan sebelum ia dapat menerimanya. Tidak ada yang perlu kita lakukan kecuali menerima apa yang diberi-Nya, atau apa yang menjadi Kehendak Tuhan atas diri kita. Itulah sabda sejati para nabi, “Asal engkau pasrah kepada Tuhan dengan ikhlas dan jujur, Tuhan akan memayungi dan menuntun dirimu.”
Di dalam latihan kejiwaan kita tidak mempunyai kemauan satu pun. Menurut Subuh, kita tidak mempunyai permohonan satu pun. Kita hanya sekadar menerima apa saja yang Tuhan berikan. Tidak patut kalau kita meniru atau mencontoh orang lain. Kita masing-masing harus menemukan dan menempuh jalan sendiri ke Tuhan. Biasanya, kalau berguru, seorang murid banyak diajari untuk melakukan persis apa yang dilakukan oleh gurunya, agar ia dapat menggayuh apa yang telah tercapai oleh sang guru. Sebenarnya itu keliru, sebab jangankan di antara guru dan murid-muridnya, di antara saudara kandung saja sudah banyak perbedaannya. Dengan demikian tentunya kita dapat mengerti bahwa jalan yang cocok untuk seorang guru dalam hal menemukan Tuhan, belum tentu cocok untuk murid-muridnya. Subuh menjelaskan kalau kita sungguh-sungguh sudah benar-benar dapat mengenal aspek halus kita, maka di dalam segala hal kita akan dituntun oleh Kekuasaan Tuhan, sebab Kekuasaan Tuhanlah yang bekerja di dalam dan di luar kita, sehingga di mana saja, di kantor atau sedang menyetir mobil, atau melakukan apa saja, kita akan selalu dituntun oleh Kekuasaan Tuhan. Sungguh jelas apa yang tersabda di dalam Alquran, “Sebelum bertindak, ucapkanlah bismillaahir rahmaanir rahiim.
Itu, kata Subuh, mengandung arti bahwa kita mengikuti Tuntunan Tuhan dan hanya akan melakukan apa yang dititahkan-Nya. Saudara tidak akan tergesa-gesa bertindak dan baru setelah itu ingat Tuhan, sehingga menyesal, merasa kecewa dengan apa yang telah Saudara lakukan. Kalau sebelum kita mulai bekerja Tuhan Allah selalu ada di dalam kesadaran kita, maka segala apa yang kita kerjakan nanti akan benar. “Itu juga mengandung arti bahwa kita tidak boleh bertindak tanpa Tuntunan Tuhan, karena jika Tuhan Allah kita lupakan, kita tidak akan mendapat Pertolongan-Nya kalau ternyata tindakan kita salah. Kekuasaan yang kita saksikan, hanya untuk meyakinkan bahwa Kekuasaan Tuhan Yang Mahakuasa bekerja di dalam kita, tidak ada hanya di dalam diri kita, melainkan juga ada di dalam tiap-tiap ciptaan. Itulah sebabnya, maka di dalam latihan kejiwaan kita tidak akan merugikan agama kita masing-masing. Apa yang kita alami dan lakukan akan berasal dari Kehendak Tuhan, dan kita hanya membuka apa yang sudah ada di dalam kita,” ujar Subuh.
Oke deh, salam damai di alam kelanggengan buat Pak Subuh.

Rahasia Keunikan Suku Naga


SUKU NAGA

Urang Naga –begitu mereka menyebut dirinya — adalah orang-orang yang sederhana, ramah, menjunjung adat, dan punya semangat gotong royong yang tinggi. Kearifan lokal komunitas ini bisa menjadi contoh, cara menjaga KELESTARIAN ALAM dengan tradisi.
20090518163354
Angin sejuk semilir berhembus di Kampung Naga. Kampung kecil yang terletak jauh dari hiruk pikuk kota ini berselimutkan nuansa alam yang masih perawan. Masyarakatnya hidup dengan rukun, damai dan sejahtera. Hidup berkecukupan dengan kekayaan adat istiadat tradisional yang dijunjung tinggi.
Dalam sejarah Sunda, memegang teguh adat adalah hal yang utama. Jejak kental memegang teguh adat ini masih dapat ditemukan di beberapa kampung adat di daerah Sunda, diantaranya adalah Kampung Naga di Tasikmalaya, Kampung Kuta di Ciamis dan Kampung Kanekes Baduy di Banten. Mereka telah membuktikan bahwa tradisi tradisional Sunda yang dipegang teguh memiliki kekuatan yang sakral dan unik dalam melangengkan kehidupan harmonis dengan alam semesta.
Pesona alamnya masih terpelihara dengan natural, jauh dari polusi dan pencemaran lingkungan. Masyarakat adat Kampung Naga hidup damai dan memiliki banyak kearifan yang patut kita pelajari untuk menciptakan keseimbangan hidup dengan ekosistem alam.
Namun, tiba-tiba saja komunitas yang kebanyakan bekerja sebagai petani ini unjuk sikap pada Bulan Mei 2009 ini. Setelah sekian lama hidup dalam ketenangan, mereka menyatakan memboikot para pengunjung atau wisatawan yang akan berkunjung ke kampungnya. Inilah sikap warga Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat yang akhirnya diakui bisa mengancam dunia pariwisata di Jabar. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kemudian menawarkan bantuan suryakanta –pembangkit listrik tenaga matahari– kepada warga Kampung Naga agar menghentikan aksi boikotnya.
Aksi boikot wisatawan ini dilakukan warga Kampung Naga itu merupakan bentuk protes terhadap pemerintah dan PT Pertamina karena hingga kini warga Kampung Naga kesulitan memperoleh minyak tanah setelah suplainya dikurangi. Padahal, warga Kampung Naga menjadikan minyak tanah sebagai bahwa untuk masak dan penerangan.
Menurut PT Pertamina, tidak mungkin menyuplai minyak tanah bersubsidi hanya ke Kampung Naga. Pasalnya, akan memicu kecemburuan bagi daerah lain. Untuk menutupi kebutuhan bahan penerangan, Dinas Pariwisata Jabar yang selama ini mengandalkan Kampung naga sebagai daerah tujuan wisata mengusulkan warga Kampung Naga menggunakan suryakanta.
Penggunaan suryakanta ini konon tidak akan mengikis nilai kultural Kampung Naga. Lain halnya dengan listrik yang akan mengubah wajah keaslian Kampung Naga. Untuk itu, wajar bila warga Kampung Naga menolak listrik di kampungnya.
Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekolompok masyarakat yang kuat memegang adat istiadat peninggalan leleuhurnya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kebersahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.
Kampung eksotis ini berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, di sebelah baratnya hutan yang dikeramatkan karena terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber iarnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.
Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut – Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda sengked) sampai ketepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melaluai jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan.
Perkampungan tradisional dengan luas areal kurang lebih empat hektar ini memiliki kehidupan komunitas yang unik. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyarakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memelihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besar Islam misalnya Upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang) Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan.
0612ha26
Upacara Adat masyarakat Kampung Naga yang sering selenggarakan di antaranya: MENYEPI. Upacara menyepi dilakukan pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Upacara ini sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa kecuali baik pria maupun wanita. Pelaksanaan upacara menyepi diserahkan pada masing-masing orang, karena pada dasarnya merupakan usaha menghindari pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat. Melihat kepatuhan warga Naga terhadap aturan adat, selain karena penghormatan kepada leluhurnya juga untuk menjaga amanat dan wasiat yang bila dilanggar dikuatirkan akan menimbulkan malapetaka.
HAJAT SASIH. Upacara Hajat Sasih dilaksanakan oleh seluruh warga adat Sa-Naga, baik yang bertempat tinggal di Kampung Naga Dalam maupun di Kampung Naga Luar. Upacara Hajat Sasih merupakan upacara ziarah dan membersihkan makam leluhur. Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon berkah dan keselamatan kepada leluhur Kampung Naga, Eyang Singaparna serta menyatakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan kepada seluruh warga. Pemilihan tanggal dan bulan untuk pelaksanaan upacara Hajat Sasih dilakukan bertepatan dengan hari-hari besar agama Islam.
KAWINAN. Upacara perkawinan bagi masyarakat Kampung Naga adalah upacara yang dilakukan setelah selesainya akad nikah. Upacara ini dilaksanakan dengan sangat sakral mulai dari penentuan tanggal baik untuk perayaan sampai dengan resepsi berakhir. Adapun tahap-tahap dalam upacara perkawinan tersebut adalah sebagai berikut: upacara sawer, nincak endog (menginjak telur), buka pintu, ngariung (berkumpul), ngampar (berhamparan), dan diakhiri dengan munjungan (sungkeman).
Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga.
Rumah yang berada di Kampung Naga jumlahnya tidak boleh lebih ataupun kurang dari 108 bangunan secara turun temurun, dan sisanya adalah Masjid, lei (Lumbung Padi) dan patemon (Balai Pertemuan). Apabila terjadi perkawinan dan ingin memiliki rumah tangga sendiri, maka telah tersedia areal untuk membangun rumah di luar perkampungan Kampung Naga Dalam yang biasa disebut Kampung Naga Luar.
Semua peralatan rumah tangga yang digunakan oleh penduduk Kampung Naga pun masih sangat tradisional dan umumnya terbuat dari bahan anyaman. Dan tidak ada perabotan seperti meja atau kursi di dalam rumah. Hal ini tidak mencerminkan bahwa Kampung Naga merupakan kampung yang terbelakang atau tertinggal, akan tetapi mereka memang membatasi budaya modern yang masuk dan selalu menjaga keutuhan adat tradisional agar tidak terkontaminasi dengan kebudayaan luar.
Kampung ini menolak aliran listrik dari pemerintah, karena semua bangunan penduduk menggunakan bahan kayu dan injuk yang mudah terbakar dan mereka khawatir akan terjadi kebakaran. Pemangku adat pun memandang apabila aliran listrik masuk maka akan terjadi kesenjangan sosial diantara warganya yang berlomba-lomba membeli alat elektronik dan dapat menimbulkan iri hati.
Letak daerahnya yang berada pada hamparan tanah yang menyerupai lembah, dicirikan dengan bentuk bangunannya yang seragam. Atap rumahnya yang berwarna hitam terbuat dari bahan ijuk, tampak berjejer teratur menghadap utara-selatan, dibatasi Sungai Ciwulan. Tempat permukiman tersebut tampak seperti diapit dua buah hutan.
Hutan pertama yang terletak di sisi Sungai Ciwulan disebut Leuweung Biuk. Hutan lainnya yang letaknya pada daerah yang lebih tinggi disebut Leuweung Larangan. Leuweung dalam bahasa Sunda artinya hutan. Seperti tempat-tempat lainnya yang dinamakan hutan, seluruh arealnya ditumbuhi tanaman keras yang entah sudah berapa puluh atau ratus tahun umurnya.
Namun, yang membedakan kawasan hutan di daerah itu dengan daerah lainnya di luar Kampung Naga adalah, keadaan tumbuhan Leuweung Biuk dan apalagi tumbuhan di Leuweung Larangan tetap terjaga utuh. Kawasan itu tampak hijau dengan berbagai jenis tumbuhan yang secara sengaja dibiarkan tumbuh secara alami. Terhadap tumbuhan tersebut, tak seorang pun anggota masyarakat Suku Naga berani merusaknya karena kedua areal hutan itu dikeramatkan.
LEUWEUNG LARANGAN YANG LUASNYA KURANG LEBIH TIGA HEKTAR, DIKERAMATKAN KARENA DI SANA DIMAKAMKAN LELUHUR MASYARAKAT SUKU NAGA, SEMBAH DALEM EYANG SINGAPARANA. Di sebelahnya masih terdapat tiga makam lainnya, namun tidak diketahui makam siapa. Kunjungan ke makam tersebut biasanya hanya dilakukan dalam waktu-waktu tertentu, terutama pada saat diselenggarakan upacara hajat sasih setiap dua bulan sekali. Upacara ritual itu hanya diikuti oleh kaum laki-laki dewasa yang sebelumnya mengikuti ketentuan khusus. Misalnya, sudah melakukan beberesih, yakni mandi bersama di Sungai Ciwulan.
Upacara itu dipimpin kuncen yang bertindak sebagai kepala pemangku adat. Para peserta biasanya menggunakan pakaian yang menyerupai jubah warna putih, kepala diikat totopong, yakni sejenis ikat kepala khas Suku Naga. Selain itu mereka tidak boleh menggunakan alas kaki, baik berupa sandal apalagi sepatu. Sementara areal hutan lainnya yang disebut Leuweung Biuk-karena letaknya dekat Saluran Biuk-berada pada kaki bukit curam yang sekaligus menjadi bibir Sungai Ciwulan. Di areal tersebut tumbuh berbagai jenis tanaman keras yang berumur lebih dari 50 tahun lebih.
Berbeda dengan Leuweung Larangan, LEUWEUNG BIUK TERMASUK TABU DIKUNJUNGI. ANGGOTA MASYARAKATNYA TAK SEORANG PUN YANG BERANI MENGINJAKKAN KAKINYA KE AREAL HUTAN TERSEBUT. APALAGI, SAMPAI MENEBANG POHON YANG TUMBUH DI ATASNYA. HAL TERSEBUT KARENA PAMALI.
Pamali sama artinya dengan tabu. Ketentuan yang tidak tertulis itu merupakan dogma yang harus dipatuhi tanpa dijelaskan lagi alasan-alasannya, apalagi sampai diperdebatkan. Sesuatu yang dikatakan pamali merupakan ketentuan dari leluhurnya yang harus dipatuhi. Jika tidak, mereka akan menanggung akibatnya, baik secara individu maupun kelompok.
Peristiwa-peristiwa seperti banjir, kekeringan, serangan hama dan penyakit tanaman padi yang mengakibatkan panen gagal atau berkurang produksinya misalnya, dianggap sebagai peristiwa yang tidak lepas dari HUKUM SEBAB AKIBAT. Karena itu, ketika terjadi perambahan tanah adat yang kemudian dijadikan hutan industri dan perkebunan, masyarakat adat Suku Naga sudah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tanah adat Suku Naga sebenarnya cukup luas yang mencakup wilayah Gunung Sunda, Gunung Satria, Gunung Panoongan, Gunung Raja, Pasir Halang sampai batas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya-Garut. Daerah itu sekaligus merupakan sub Daerah Aliran Sungai Ciwulan yang harus dijaga kelestariannya.
KEARIFAN LOKAL
Pandangan hidup masyarakat adat Suku Naga yang berkaitan dengan lingkungannya tersebut sebenarnya mengandung kearifan lokal. Misalnya, hanya dengan PAMALI, MASYARAKAT ADAT SUKU NAGA MAMPU MENAHAN DIRI, sehingga tidak terjadi perambahan kawasan hutan. Padahal jika dilihat dari tuntutan kebutuhan dan keterbatasan sumber daya alam yang dimiliki, desakan tuntutan tersebut jauh lebih kuat dibanding masyarakat sekitarnya.
Masyarakat adat Suku Naga tabu membangun rumah dengan menggunakan bahan bangunan industri, kecuali paku. Atap rumahnya terbuat dari ijuk dan dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Seluruh tiang penyangga menggunakan balok kayu. Bahan-bahan lokal tersebut berusaha dipenuhi sendiri tanpa harus merusak kawasan hutannya.
Sayang, nilai-nilai lokal yang mengandung kearifan tersebut, dalam masyarakat sekarang ini kurang diperhatikan lagi. Kegiatan penebangan hutan malah terjadi disekeliling kampung. Ironisnya, perambahan itu dilakukan bukan oleh masyarakat Suku Naga, melainkan oleh masyarakat luar yang selama ini menganggap dirinya memiliki latar belakang pengetahuan lebih maju. Sebaliknya masyarakat adat Suku Naga sendiri tidak seorang pun yang berani memasuki areal kawasan hutan tersebut. Mereka berusaha menjaga kelestariannya. Perusakan hutan lindung Gunung Raja dianggap telah melindas nilai-nilai lokal yang selama ini dianutnya sebab di daerah itu terdapat situs yang memiliki kaitan erat dengan asal-usul masyarakat adat Suku Naga. Selain itu, kawasan hutan tersebut patut dipertahankan mengingat salah satu peran pentingnya sebagai sumber air masyarakat adat Suku Naga.
Masyarakat adat Suku Naga yang menempati wilayah yang disebut Kampung Naga itu, selama ini diakui memiliki potensi budaya yang besar merupakan bagian tidak terpisahkan dari budaya Sunda. Mereka hidup mengelompok tanpa mengisolasi diri dengan lingkungan dan kehidupan daerah sekitarnya, akan tetapi tetap mempertahankan pandangan hidup dan tradisinya di tengah gelombang modernisasi.
TV dengan gempuran sinetron dan acara gosip, serta fasilitas komunikasi yang canggih, ditambah kedatangan turis-turis asing dengan kebiasaan berpakaian mereka yang berbeda, dan kedatangan wisatawan dalam negeri sering kurang ajar dan seenaknya, tidak membuat mereka berubah. adat tetap jadi yang utama. “DA KIEU CARA URANG NAGA MAH…”
URANG NAGA MENYADARI PERUBAHAN DI SEKITAR MEREKA, TAPI MEMILIH UNTUK TIDAK BERUBAH….

Siapapun Yang Menjadi Presiden Kita Nanti


SIAPA PUN PRESIDEN KITA

Sapa sapa wong kang gawe bécik, Nora wurung mbenjang manggih arja, Tékeng saturun-turune. Yen sira dadi agung, Amarintah marang wong cilik, Aja sédaya-daya, Mundhak ora tulus, Nggonmu dadi pangauban. Aja nacah, marentaha kang patitis, Nganggoa tépa-tépa.
(Barang siapa yang berbuat baik, Tiada urung kelak menemui bahagia, Sampai kepada keturunan-keturanannya, Jika kamu manjadi orang besar. Memerintah orang kecil, Jangan SEMENA-MENA dan wajib bersikap tulus. Kamu menjadi pelindung sehingga jangan sembarangan memperlakukan mereka, perintahlah yang tepat dengan perkiraan yang tepat).
Sepertinya nasihat Ki Ageng Sela itu lebih cocok untuk para Presiden yang nanti terpilih dalam Pilpres 2014. Siapapun sosok yang nanti jadi pemimpin negara, bagi saya pribadi nggak penting-penting amat. Saya menilai orang bukan pada sosoknya, bukan pada namanya, bukan pada prejengannya, bukan pada penampilanya, bukan pada citra-citranya, bukan pada kulitnya, bukan pada janji visi misinya, tapi pada KENYATAAN NANTI SETELAH TERPILIH DIA WAJIB BISA MENUNAIKAN HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNTUK MENGAMALKAN PANCASILA SECARA MURNI DAN KONSEKUEN.
Saya tidak pernah menawar berapa nilai kebenaran dari Pancasila. Kalau yang lain barangkali hanya meyakini benar sekian puluh persen, maka saya berani bertaruh seratus persen! sebuah ideologi yang paling pas dan cocok untuk warga bangsa Indonesia.
Sejarah telah menguji Pancasila. Sebuah ideologi terbuka yang kenyal dan ampuh menghadapi ragam macam masalah bangsa. Jangan pernah ragu-ragu terhadap Pancasila: yang awalnya berasal dari “wisik” atau “ilham” yang diterima oleh para leluhur kita… Mr Muh Yamin, Ir Sukarno, 73 tokoh BPUPKI, 27 tokoh PPKI,….. mereka ini adalah sosok-sosok yang dipilih Allah SWT.
Simaklah para sedulur semua, mantra sakti bangsa Indonesia yang bernama PANCASILA itu:
1. KETUHANAN YANG MAHA ESA,
2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB,
3. PERSATUAN INDONESIA
4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN
5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA.
Betapa dahsyat energi yang terkandung di dalamnya. Setiap sila bermuatan beribu ratus kemuliaan yang tiada berhingga dimana sila pertama menjadi dasar pondasi yang kokoh sila kedua, sila kedua menjadi dasar pondasi yang kuat sila ketika dan seterusnya sehingga akhirnya terwujud suasana dimana setiap warga negara merasakan keadilan sosial, maknanya jelas kita semua sejahtera yang berkemakmuran lahir batin.
Tidak salah kiranya bila Pancasila tetap harus dijadikan dasar negara, dihayati dan diresapi serta terus menerus dijadikan dasar norma dan nilai, serta nafas setiap penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila adalah nafas kita! Maka jangan pernah meninggalkan nafas kita sendiri yang berakibat kita nanti kehilangan jati diri kita sebagai warga Indonesia.
Pengembangan setiap ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan peradaban yang akan dibentuk bersama di negeri ini, haruslah berada dalam koridor Pancasila sebagai ideologi terbuka. Monggo disimak isi Pancasila sebagaimana yang pernah dijadikan terjemahan wajib era Presiden Soeharto. Insya allah semuanya bertabur kemuliaan….
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
(1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
(3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
(7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
3. Persatuan Indonesia
(1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
(3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
(4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
(5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
(6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
(7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
(6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
(4) Menghormati hak orang lain.
(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
(9) Suka bekerja keras.
(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
Tidak ada yang keliru bukan? Di setiap suku, agama, ras, antar golongan masyarakat, Pancasila bisa diterima dengan akal sehat. Orang di pedalaman Kalimantan atau Papua maupun orang yang ada di ibu kota membutuhkan Pancasila karena setiap orang harus hidup bermasyarakat…. Nah, sekali lagi kita bicara dalam konteks berbangsa bernegara, bermasyarakat, konteksnya itu… bukan dalam konteks keyakinan individual.
Jadi PANCASILA BUKAN AGAMA! Jangan disamakan dan tidak pada tempatnya untuk membanding-bandingkan. Agama urusannya pada domain keyakinan individual. Pancasila itu aturan-aturan bermasyarakat yang telah disepakati bersama oleh setiap orang di Indonesia untuk hidup secara damai dan aman tenang tentram namun sekaligus bertujuan mulia; mewujudkan negara bangsa Indonesia.
PRESIDEN KITA NANTI WAJIB MEWUJUDKAN PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA. Ki Ageng Selo dalam SERAT PEPALI punya pesan begini….
Kawruhana pambengkasing kardi, Pakuning rat lélananging jagad, Pambekasing jagad kabeh, Amung budi rahayu, Sétya tuhu marang Hyang Widi. Warastra pira-pira, Kang hanggung ginunggung, Kasor dening tyas raharja. Harjaning rat punika pakuning bumi, Kabeh kapiyarsakna.
(Ketahuilah untuk Penyelesaian segala kewajiban, Poros Alam Jantan Dunia…… Pembebas Seluruh Dunia adalah yang berbudi rahayu, Setia kepada Yang Maha Kuasa. Senjatanya boleh ber-macam-macam dan bisa jadi di puji-puji banyak orang namun itu semua akan kalah oleh hati yang lurus karena ini adalah hukum keadilan alam yang merupakan pusat peredaran bumi, Dengarkanlah semua ini….)
wong kang makrifat séjati, Tingkah una-unine prasaja, Dadi panéngeran gédhene. Eséme kadi juruh, saujare manis trus ati, Iku iangaran dhomas. Wong bodho puniku, Ingkang jéro isi émas, Ingkang nduwe bale kencana puniki, Bola bali kinenca.
(Orang yang makrifat sejati, Tingkah dan ucapanya bersahaja, Menjadi tanda kebesarannya. Senyumnya bagaikan kental gula, Tiap ucapannya selalu manis terus hati. Itulah yang disebut dhomas. Kelihatannya bodoh namun jiwanya berisi emas, Yang memiliki tahta kencana …)
Aja watak sira sugih wani, Aja watak sok ngajak tujaran, Aja ngéndélkén kuwanen, Aja watak anguthuh, Ja ewanan lan aja jail, Aja ati canthula, Ala kang tinému. Sing sapa atine ala, Nora wurung bilahi pinanggih wuri, Wong ala nému ala.
(Jangan berwatak menyombongkan keberanian, Jangan berwatak sering suka bertengkar, Jangan menyandarkan diri pada keberanian, Jangan berwatak tak tahu malu, Jangan irihati dan jangan jahil, Jangan berhati lancang, Buruk yang didapat, Barang siapa berhati jahil, Tiada urung celaka akhirnya didapat, Orang jahat menemukan jahat.)
Aja sira méngeran busana, Aja ngéndélkén pintéré, Aja anggunggung laku. Ing wong urip dipun titeni, Akétareng basa, Katandha ing sému. Sému bécik, sému ala, Sayéktine ana tingkah solah muni, Katon amawa cahya.
(Jangan bertuhan kepada perhiasan, Jangan congkak akan kepintaranmu, Jangan menyanjung-nyanjung laku. Itu disaksikan oleh sesama-hidup, Terlihat dalam budi-bahasamu, Tertanda pada roman-muka. Separuh baik, Separuh jahat, Sebenarnya semuanya terlihat dalam tingkah-laku yang bercahaya).
Bumi, géni, banyu miwah angin, Pan srengenge, lintang lan rémbulan, Iku kabeh aneng kene. Ségara, jurang, gunung, Padhang péténg, padha sumandhing, Adoh kalawan pérak, Wus aneng sireku. Mulane ana wong agucap, Sapa bisa wong iku njaringi angin, Jaba jalma utama.
(Bumi, api, air serta angin, Matahari, bintang dan bulan, Itu semuanya ada disini. Laut, lembah dan gunung, Terang dan gelap ada disamping, Jauh dan dekat, Sudah ada dalam dirimu. Karena itu ada orang yang berkata : Siapa yang dapat menjala angin, kecuali manusia yang utama?)
Tama témén tumaném ing ati, Atinira tan nganggo was-was, Waspadha marang ciptane. Tan ana liyanipun, Muhung cipta harjaning ragi, Miwah harjaning wuntat. Ciptane nrus kalbu, Nuhoni ingkang wawénang. Wénangira kawula punika pasthi, Sumangga ring kadarman.
(Baik dan jujur tertanam dalam hati, Hatinya tak mengandung keraguan, Waspada terhadap ciptanya. Tak ada lainnya, Dalam ciptanya hanya kebahagiaan badan, Dan kebahagian di kemudian hari. Ciptanya meresap dalam kalbu, Meyakini kepada Yang Kuasa. Kekuasaan itu sesungguhnya pasti, Terserah kepada KEMURAHAN TUHAN.)
Demikian pandangan saya, mengikuti jalur para leluhur nusantara yang wasis dan waskita. Rahayu rahayu rahayu…

Si Gelandangan Fakir Miskin


SI GELANDANGAN FAKIR HE MEN


gelandanganku
Orang-orang memangilnya He-Men. Dia adalah salah satu pejalan spiritual yang mendapatkan perintah guru spiritual untuk menjadi gelandangan. Inilah sekelumit kisah perjalanan mereka yang tangguh dan teguh menjalani laku suluk. Jadi gelandangan fakir di jalan Allah.
Melanjutkan posting terdahulu KENAPA GURU SPIRITUAL MENYURUH MURID JADI GELANDANGAN? Saya ingin berbagi kisah nyata saudara-saudara saya yang alhamdulillah, saya kenal dan saksikan apa dan bagaimana mereka mendapatkan perintah dari para guru spiritual untuk menjadi “gelandangan” tersebut.
Pertama, guru mistik yang saya maksud dalam postingan pertama tidak selalu berbentuk manusia nyata, yang bisa dipegang, diraba dan dilihat. Guru spiritual ini bisa berwujud makhluk Tuhan yang sudah meninggal dunia, apakah itu malaikat atau mungkin juga roh leluhur yang ditugaskan Tuhan untuk membimbing manusia agar saleh, bertakwa dan baik.
Kedua, kehadiran guru mistik ini biasanya tanpa dinyana dan tanpa direkayasa. Tiba-tiba saja mereka hadir menjadi teman perjalanan spiritual seseorang yang telah bertobat dan bertekad untuk menjalani jalan suluk yang panjang dan mengerikan.
Ketiga, guru mistik ini datang atas perintah Tuhan. Bila Tuhan menghendaki seseorang itu katakanlah X menjadi beriman dan beramal saleh, bertakwa pada-Nya sekaligus biasanya ditunjuk untuk menyebarkan kebenaran maka Tuhan mengutus sesuatu hal: apakah itu seonggok batu, serangga, malaikat, jin, setan, roh leluhur atau makhluk lain yang namanya tidak kita ketahui untuk menjadi guru spiritual dan penyadar X yang telah ditunjuk-Nya. Tuhan Maha berkekendak, dan kehendaknya melampaui logika normal manusia seperti kita. Jadi, ya terserah Dia saja.
Yang unik, bahasa guru spiritual untuk berkomunikasi dengan si X juga bermacam-macam sarananya, Bisa jadi dengan telepon genggam dan memerintahkan secara langsung seperti kita menyuruh siapa untuk melakukan sesuatu. Bisa jadi melewati mimpi saat kita tertidur, bisa jadi guru spiritual ini masuk ke raga seseorang untuk sementara dipinjamnya dan berkomunikasi dengan X.
Pernah suatu ketika ada seseorang pejalan spiritual (salah seorang sahabat saya, pemilik blog sebelah) diuji guru spiritualnya dan bercerita kepada saya (wongalus): “Saat itu saya sudah janjian dengan kakek (sebutannya untuk guru spiritual) di sebuah taman yang sepi. Saya tunggu di sana kok tidak ada yang datang dan saya sudah gelisah. Tiba-tiba saya didatangi seorang wanita cantik dan eh,.. saya digoda. Dasar pria, keimanan saya terus terang sedikit goyah dengan godaannya untuk mengajak kencan… Entah kenapa, feeling saya akhirnya mengatakan jangan turuti dan saya diam saja dengan ulah nakalnya. Ternyata benar, sang wanita cantik yang sudah menggerayangi bagian-bagian tubuh saya itu lantas tertawa dan mengatakan bahwa dia adalah kakek, guru spiritual saya… Saya benar-benar malu, ternyata kakek sudah masuk ke jasad wanita tersebut.”
Kejadian seperti ini berulang berkali-kali hingga kemudian si murid spiritual ini hapal benar karakter sang guru spiritual ini suka dengan selera humor anak muda dan suka menggoda sang murid dengan masuk ke jasad manusia yang karakter dan wataknya berlainan.
Nah, di awal artikel saya telah menyebut seorang yang bernama samaran He-Men. Siapa dia? Dia adalah salah seorang keturunan pewaris sebuah pondok pesantren Siwalan Panji di kawasan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Bila orang paham silsilah atau nasab, ini adalah pondok pesantren yang sepuh dari sisi ilmu. Di pondok pesantren ini pula, KH Hasyim Asyari, pendiri NU pernah berguru dan memperisteri salah satu anak kyai di sana. Itu sebabnya, bila Gus Dur ke Sidoarjo maka dia menyempatkan untuk mengunjungi Ponpes ini dan menyapa kerabatnya yang tinggal segelintir hidup di sana dengan sebutan: “Kangmas” sebutan untuk menghormati saudara Gus Dur yang lebih tua.
Yang terkenal ustad pengasuh ponpes yang saat ini masih hidup adalah Gus Hasyim Mudjib dan seseorang yang namanya saya sebut tadi, He-Men. Beda dengan Gus Mujib, bila dia berada di jalur formal dan juga memasuki kancah politik dengan pernah menjadi anggota DPRD, namun He Men ini mengikuti jalur nyeleneh. Sejak kecil dia ditempa tidak dilingkungan Pondok. Dia malas belajar kitab-kitab kuning sebagaimana para santri-santri lain. Dia malah menjadi mahasiswa umum di sebuah perguruan tinnggi namun entah karena apa, bangku kuliah ini juga tidak dituntaskannya.
Kesukaan He-Men adalah mengkritik, memprotes, demonstrasi di jalanan mengkritik pemerintah. Menentang ketidakadilan, kekotoran dan kebusukan politikus-politikus dan penguasa yang dianggapnya lalim dan dzalim. Pakaiannya pasti unik, nyeleneh dan gayanya eksentrik. Coba bayangkan, saat yang lain berpakaian jeans dan berkaos oblong sebagaimana kesukaan anak muda; tiba-tiba dia datang mengenakan baju resmi berwarna merah, bercelana pantalon, bersepatu hitam mengkilap, berdasi kupu-kupu warna kuning, rambut dicat seperti anak muda kota, bahkan alisnya dihitamkan…. Menyaksikan keanehan penampilan si He-Men yang usianya sekitar tujuh tahun di bawah saya, biasanya saya dan beberapa teman hanya mbatin: Kok bisa ya…. tapi juga enggan untuk melontarkan secara langsung khawatir yang bersangkutan tersinggung.
Tiba-tiba He Men yang selama ini menemani kami menghilang….. kami pun melupakannya. Kejadian ini terjadi awal tahun 2001 yang lalu. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh tahun eh… si nyeleneh He Men datang lagi dengan penampilan yang sudah berubah. Serba hitam. Pakaian muslim hitam, kopyah hitam, celana panjang hitam. Bicaranya pun sudah berubah total. Saya yakin, Nur… cahaya Allah sudah menerangi dia. Setiap butir kata yang meluncur dari mulutnya mencerminkan hikmah dan kebenaran ayat-ayat ilahi yang diperolehnya dari nglakoni menjadi gelandangan, sang fakir yang hanya berserah diri kepada Allah SWT.
Kisahnya selama melakoni jadi sang fakir alias gelandangan ini sangat panjang. Sering kami bertemu hanya untuk bersilaturahim antar sesama muslim. Kadang dia beranjangsana ke rumah pada tengah malam hingga subuh untuk berbagi cerita. Dan kebetulan saya menyukai kisah-kisahnya yang luar biasa. Rasa-rasanya setiap jengkal pengalaman yang dikisahkannya kepada saya menjadi sangat berarti dan semuanya terang benderang oleh cahaya Tuhan. Sayang saya sepertinya tidak mampu menuliskannya lagi karena keterbatasan energi memori saya yang sangat kecil ini.
Secara garis besar, perjalanan si gelandangan He Men dimulai dari Sidoarjo, Jawa Timur…. menuju Kudus, lantas ke selatan singgah di Solo dan kemudian jalan kaki dilanjut ke barat Klaten bertemu Mbah Lim Imam Puro pengasuh Ponpes terkenal di sana, dan menuju ke Jogja terus ke barat… hingga ke ibukota negara Jakarta. Di sana dia menetap untuk beberapa tahun. Selanjutnya perjalanan dimulai lagi di Sumatra. Mulai Lampung hingga Aceh.. kembali lagi melewati jalan yang sama… balik ke Jakarta, kemudian ngubek-ubek kota-kota di Kalimantan…. Dengan berjalan kaki dan tanpa uang sepersenpun. Hanya memiliki harta berupa pakaian yang menempel di badan dan sepatu. Singgah di masjid, surau dan langgar… kadang menjadi imam sholat, kadang menjadi makmum, kadang tiba-tiba ikut jadi tukang bersih-bersih masjid. Tidak ada jadwal waktu dan hari kapan dia akan bergerak lagi memulai perjalanan ….
Kata He Men: “Rezeki Allah luar biasa banyak. Kita kadang lupa untuk bersyukur ya.. Udara gratis, tubuh gratis, nyawa gratis… eh nasi gratis. Dalam perjalanan, saya tidak boleh meminta makanan dan minuman dari siapapun juga. Kecuali kalau saya dikasih, maka akan saya terima…” “Setiap butir nasi bungkus pemberian Gusti Allah melalui tangan orang lain saya rasakan sangat berarti. Bahkan bila sudah saking laparnya, saya diperintahkan Gusti Allah untuk mengambil makanan sisa orang di sampah… saya nikmati…. dan luar biasa… saya hidup pasrah karena Dia Maha Pemberi Rezeki…” ungkap He Men.
Tidak terhitung mengalaman mistik supranatural yang dijumpai si He Men ini. Barangkali jin dan hantu-hantu sudah pada malas menggoda si manusia fakir pilih tanding ini. Olah rasa dan olah batinnya ditempa sekian lama oleh penderitaan dan kepasrahan kepada Tuhan satu-satunya pencipta Semesta Alam. Setiap titik yang disinggahi, apakah itu di surau, masjid, langgar, gang kumuh di kota, lokalisasi, atau di dekat istana negara…selalu saja dia menjadi bahan tertawaan bahkan menuduhnya kurang waras. Itu konon, pikiran dan alur logikanya memang sudah dianggap ketinggalan jaman padahal menyuarakan kebenaran.
Misalnya: saat bertemu dengan seorang serdadu/tentara yang bergerombol menjaga istana negara suatu malam. He Men: Pak apa yang Anda jaga… presiden atau istara presiden?” Serdadu: Presiden!!! He Men: Presiden kan tidak tidur di sana? Serdadu: Kok tahu… sok tahu kamu!!! He Men: Ya tahu aja, nggak mungkin dia tidur di istana lha wong ini cuma gedung simbol negara… Serdadu: diam, mungkin mikir ini anak gelandangan agak gila tapi benar juga omongannya. He Men: Daripada jaga gedung dan mikir masalah duniaaaa terus… mending dzikir pak… Ingat Tuhan, Ingat yang menciptakan Anda, pasti ada manfaatnya. Dia akan ingat juga sama sampean… dan sampean bisa meminta apapun karena dia Maha Pemberi….. Serdadu: Terima kasih. Tapi tolong Anda pergi dari sini… He Men: Ya sudah… assalamualaikum….
Saat di Jakarta itulah, kata He Men, dia sehari-hari tidur di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Hingga suatu ketika ada seseorang yang mengenalinya sebagai cucu seorang ulama sepuh di Jawa Timur dan dianggap anak angkat seorang anggota DPR/MPR. Si gelandangan He Men juga memiliki bejibun kisah mistis. Banyak kisah mistik supranatural yang kadang enggan diceriterakan He Men ke orang lain dengan alasan kalau nanti justeru dianggap sombong dan takabur. Namun karena berbagai hal juga, dia bisa menceriterakan dengan gamblang sebagaimana dituturkan kepada saya (wongalus) bagaimana dia dia mempersunting seorang gadis desa.
“Saat itu perjalanan saya melewati sebuah desa malam hari sunyi. Sudah di atas jam duabelas malam. Tidak ada satupun orang terlihat melintas. Tiba-tiba ada ikan menggelepar di depan saya…. Karena lapar sudah sehari nggak ada yang ngasih makan, saya ambil ikan itu siapa tahu bisa saya makan… Saat akan saya ambil, eh tiba-tiba dia bisa ngomong… Saya bukan jatahmu, saya hanya memberitahu suatu saat kalau kamu lewat di jalan ini lagi, maka itulah saatnya kamu menikah disini… Ikan kemudian tidak jadi saya ambil. Dua tahun kemudian, saat suatu malam saya melewati jalan itu lagi… eh, ikan itu muncul lagi di tempat yang sama dan saya ditagih untuk menikah. Akhirnya, saya duduk di pinggir jalan untuk bertanya ke sana kemari apa ada seorang perempuan yang ingin menikah… Ternyata ada seorang perempuan guru ngaji yang belum menikah dan membutuhkan suami. Berdasarkan informasi dari orang tersebut, Saya datangi rumahnya dan saya tembung orang tuanya… anaknya pun suka dengan saya… ya akhirnya saya menikah…” kisah He Men.
Kisah mistik lain adalah perjumpaannya dengan seorang tokoh kyai Mbah Lim Imam Puro. Mbah Lim adalah kyai yang misterius dan tidak setiap saat mau ditemui para tamu. Konon, Mbah Lim yang dikenal sebagai seorang kyai “khos” ini kadang entah kenapa melempar para tamu dengan benda apa saja untuk menunjukkan keengganannya ditemui para tamu yang datang ke rumahnya. Bahkan tidak jarang dia mengambil sapu dan dipukuli para tamu itu… Iki kakean (kebanyakan) dosa… hayo tobat!!! Namun uniknya, dengan mudah dia mendatangi He Men yang nunggu di depan rumah pada suatu malam… dia tidak ngamuk apapun dan meminta agar He Men secepatnya pulang ke rumah. “Perintah Mbah Lim itu kemudian saya laksanakan.. saya nggandol pulang naik kereta api…., tiba di pondok (Ponpes Siwalan Panji), ternyata ibu saya sakit dan setelah bertemu saya, dia dipanggil Allah. Ibu berwasiat agar saya meneruskan menjadi ustad mengasuh pondok,” ujar He-Men.
Inilah sedikit kisah yang bisa saya sampaikan kepada para Pembaca budiman yang sempat mampir di blog ini. Masih banyak kisah mistik yang dialami He Men. Namun karena keterbatasan saya, tidak sempat saya tuliskan. Alhamdulillah dan insyaallah He Men diberi rahmat Gusti Allah untuk jujur dan mampu membedakan dari mana kata yang mengandung kebenaran dan mana kata yang menyesatkan. Apakah itu sumbernya dari membaca buku, dari sekolah, dari katanya teman, atau langsung dari Nur Allah…. Dan kata-kata He Men, saya yakin benar-benar dari Nur Allah…. Alhamdulillah, Tuhan sudah memberikan pengajaran yang begitu kaya kepada saudara kita yang satu ini.
Sayangnya, saya kembali merasa kehilangan jejak kemana si He-Men sekarang berada. Dia jarang terdengar di peredaran dan ternyata informasi dari beberapa teman dekatnya mengatakan bahwa sekarang dia mengembara lagi ke Kalimantan, Sulawesi dan entah kemana lagi.
Untuk saudaraku He Men… selamat jalan, kepasrahanmu kepada-Nya menjadi inspirasi kami semua. Bila Tuhan satu-satunya yang jadi perisai pelindungmu, siapa lagi yang dikhawatirkan dan ditakutkan??? Terima kasih dan selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan,… dan bila ada kata yang dirasa kurang pas dan kurang berkenan, ini semata-mata karena kebodohan saya pribadi untuk “meringkas” dan memaknai kasunyatan ini dengan pemilihan kata-kata yang pas.

Ritual Khusus Pecandu Internet

RITUAL PECANDU INTERNET

Internet telah menjadi bagian hidup sehari-hari manusia modern. Ia menjadi ritual wajib yang harus dilaksanakan untuk menghabiskan hari. Pagi bukan Facebook dan game online, siang buka blog dan website, malam beselancar search engine. Hati-hati, kecanduan!
Ini kebetulan hari Minggu. Dalam postingan kali ini, mohon maaf rasanya jari susah diajak kompromi untuk menulis hal-hal yang spiritual. Mungkin, karena tarikan magnet dunia benda yang luar biasa. Padahal, di kepala ada banyak hal spiritual yang ingin disampaikan. Mungkin pula karena kondisi tubuh yang agak lemes gara-gara masuk angin. Maka lebih baik menulis tentang hal yang ringan. Sekedar tambahan sedikit informasi tentang bagaimana seharusnya kita mensikapi internet.
Di kepala, terlintas banyak pikiran apakah itu kejadian-kejadian berskala nasional yang baru terjadi maupun agenda pribadi: penangkapan orang yang diduga gembong teroris Nurdin M. Top oleh Densus 88, wafatnya penyair handal Si Burung Merak W.S. Rendra dan Mbah Surip, Kecelakaan Pesawat, Lumpur Lapindo yang mengganas, kerja bakti di RT menyambut tujuh belasan HUT RI, harus merampungkan dua pekerjaan sampingan, siap-siap bekerja keras besok senin di kantor, rekreasi. Keluarga yang ingin jalan-jalan menikmati hari Minggu dan seterusnya.
Semuanya tumplek blek di sel-sel otak… Semuanya akhirnya hanya jadi pikiran. Tubuh agaknya malas diajak mengikuti agenda-agenda dunia yang banyak itu. Akhirnya, ya seperti yang diketahui saya hanya duduk saja. Saya mohon ijin ke anak isteri untuk tidak mampu mengantar mereka jalan-jalan. Saya mohon ijin ke para tetangga tidak bisa ikut kerja bakti bersih-bersih gorong-gorong air yang mampet, saya mohon ijin kepada Tuhan hanya bisa melaksanakan ibadah dunia sesuai dengan kemampuan saya. Mohon maaf.
Saya buka laptop dan internet. Rasanya kangen dengan para blogger yang tetap bersemangat untuk nggayuh kawicaksanan. Di blog, kita juga bisa bersilaturahim dengan cara berdiskusi mengeluarkan gagasan ide-ide yang panjang dan mendalam. Di blog, kita bisa belajar untuk mengungkapkan ide di kepala secara kreatif dengan bahasa yang mudah dipahami dan sedikit agak ngawur tanpa khawatir diprotes oleh dosen. Ini beda ketika kita bikin karya ilmiah, salah menggunakan kata, kalimat dan bahasa maka dosen langsung mencoret. Di blog, salah menulis tidak terlalu beresiko kecuali bila kita melanggar semacam katakanlah etika, unggah ungguh, sopan santun. Di blog, ada kebebasan mengekspresikan gagasan dan pembelajaran kreatif.
Di era informasi seperti sekarang, kita semua dimudahkan untuk mencari pengetahuan. Tidak hanya mencari pengetahuan, namun juga ikut berpartisipasi menyumbangkan pengetahuan entah itu hasil perenungan sederhana sehari-hari, perenungan olah rasa setelah mendapat wangsit, hasil analisa yang njlimet, hasil penelitian yang menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan, dan seterusnya.
Ada pula kebiasaan baru dari perkembangan era komunikasi internet. Yaitu kehadiran facebook. Kehadiran facebook, kita tahu semakin membuat seseorang mudah berbagi ide, gagasan singkat dan interaktif. Komentar-komentar pun bermunculan, cukup menarik. Facebook mewabah di hampir semua kalangan usia dan profesi. Sayangnya facebook hanya bisa dijejali dengan pesan-pesan pendek singkat, chatting yang bisa jadi apus-apus, munafik dan dangkal sehingga tidak membuat kita beranjak dewasa dengan perenungan yang mendalam, intens dan kaya.
Ada lagi yang dampak internet yang lebih negatif dibanding facebook, yaitu game online. Di banyak warnet, para pelajar malah banyak yang bolos sekolah hanya untuk main game online. Ini tentu saja harus dipikirkan bersama, bagaimana solusinya agar internet bisa dikembalikan ke fungsinya yang benar. Warnet-warnet penuh dengan pelajar main game online, handphone khusus untuk berfacebook semakin banyak, pelayan jasa telekomunikasi kebanjiran untung. Satu penyakit baru muncul yaitu: KECANDUAN INTERNET.
Penyakit ini mungkin belum banyak disadari oleh kita yang tinggal di Indonesia. Di China lain lagi. Akibat semakin banyaknya pengguna internet dan kebiasaan berinternet tanpa mengenal waktu, maka didirikanlah KLINIK BAGI PECANDU INTERNET. Konon, semakin banyak orang yang sakit gara-gara internetan tanpa mengenal waktu. Duduk lama di depan komputer, mata kelelahan melihat layar komputer, kurang gerak tubuh, mengkonsumsi makanan dan minuman cepat saji mengakibatkan derajat kesehatan badan dan kesehatan pikiran menurun drastis.
Internet adalah dunia ide yang awalnya sebagai alat tukar menukar informasi dalam jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat di tahun 1969, melalui proyek yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network). Mereka mendemonstrasikan bagaimana dengan hardware dan software komputer yang berbasis UNIX, bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon. Proyek ARPANET merancang bentuk jaringan informasi yang dapat dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai Internet Protocol.
Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan. Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 4 situs saja yaitu Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu. Meski sudah dimulai sejak 1969, secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972.
Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negara tersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya. Oleh sebab itu ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu “MILNET” untuk keperluan militer dan “ARPANET” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.
Yang perlu digarisbawahi adalah, internet bukanlah dunia sesungguhnya. Internet adalah wahana tukar menukar informasi, ide atau gagasan. Tidak lebih. Menjadikan internet sebagai wahana mencari hiburan hingga membuatnya kecanduan, bisa membuat kita tenggelam dalam hidup yang main-main belaka. Resikonya ada, yaitu membuat kita kekurangan waktu untuk menikmati hidup aktual, menikmati kehangatan sapaan komunikasi dengan keluarga, dan menikmati sapaan alam.
Dulu, setiap potong informasi harus dicari di perpustakaan-perpustakaan. Orang harus berjalan kaki ke gedung perpustakaan, mendaftar jadi anggota, dan melongok-longok kemudian mengambil buku yang diinginkan. Itu pun belum tentu mendapatkan potongan informasi yang dicari. Kini? Hanya tinggal masuk ke search engine, mengetik kata yang diinginkan maka dalam hitungan beberapa kejap mata search engine akan memunculkan ribuan potong informasi yang kita inginkan. Luar biasa cepat.
Sama seperti kehadiran remote televisi. Tanpa remote, kita harus berdiri dari tempat duduk, berjalan dan ke arah televisi untuk mencari stasiun televisi yang dibutuhkan. Ada tenaga yang dikeluarkan. Ada keringat yang keluar. Berarti tubuh tetap bergerak dan berolah raga. Dengan adanya remote, kita bisa sambil tiduran atau duduk manis dengan memencet tombol remote. Namun tubuh tidak bergerak dan tidak ada olah raga. Nah, dari dua kebiasaan: memakai remote dan tanpa remote, sehat yang mana dampaknya pada tubuh biologis kita?
Sekali lagi. Setiap hal pasti ada dampak baik buruknya. Ada dampak yang harus ditanggung akibat kemudahan itu. Kemudahan mencari informasi di internet membuat setiap potong informasi yang harusnya sangat berharga menjadi seakan tidak bernilai. Dengan tidak lagi susah berjuang untuk memperoleh informasi. orang menjadi malas, rapuh dan manja. Bertambahnya informasi dan banyaknya pengetahuan di kepala tidak serta merta membuat kita semakin bijaksana. Tidak ada jaminan orang yang pengetahuannya banyak, naluri kemanusiaannya juga serta-merta meningkat. Menolong orang lain, memberikan harta benda untuk kemanfaatan masyarakat tidak serta merta harus dibarengi dengan banyaknya informasi yang mengumpul di otak. Justeru terkadang, naluri kemanusiaan hidup pada mereka yang sedikit informasi, miskin dan terbelakang pengetahuannya.
Hidup yang tidak mampu menghayati proses perjuangan adalah hidup yang instan dan terasa cepat. Orientasi orang bukan lagi bagaimana menikmati proses, namun bagaimana mendapatkan hasil secepatnya. Bila hasil sudah diperoleh, maka dia akan mencari hasil-hasil lain. Orang tidak pernah mampu puas dengan satu hasil saja. Dia akan mencari hasil lain yang lebih besar. Hingga akhirnya waktu hidup kita habis dalam perbandingan-perbandingan serta pencarian-pencarian yang tiada berujung pangkal.
Berorientasi pada hasil, bukannya tidak baik. Baik-baik saja asalkan proses dilalui dengan sabar dan benar. Mengorientasikan diri hanya pada hasil tanpa melihat prosesnya, membuat derajat kemanusiaannya menurun ke tingkat binatang. Binatang tidak perlu memikirkan bagaimana mendapatkan makanan dengan cara yang halal, baik dan bijak. Binatang hanya mengerti bagaimana makanan diraih secepatnya.
Ya begitulah, daripada ritual internetan terus tanpa mengenal waktu mending hidup yang aktual: melaksanakan ritual sholat wajib bersama mbah Bejo atau ritual meditasi diam bersama Ki Atmodjo, atau ritual melihat langit, matahari atau bulan khusyuk yang lama bersama mas Sasongko. Membuka rasa sejati untuk bertemu, bertamu dan berkomunikasi dengan Gusti, mengheningkan cipta, menyatukan rasa sejati kita kepada iradat-Nya.  http://ajianpeletdanpengasihan.blogspot.com

Rekayasa Genetika

REKAYASA GENETIKA

Manusia dan berbagai polah tingkahnya selalu saja menjadi problema, sekaligus misteri. Ini adalah problem etika: bagaimana bila manusia (BUKAN TUHAN) menciptakan  manusia dengan cara kloning?
Sejak zaman prasejarah sampai sekarang ini setiap penemuan baru sebagai hasil teknologi dan ilmu pengetahuan selalu menghasilkan pertentangan mengenai dampak positif dan negatifnya. Seperti penemuan api, kapak, mesin-mesin, alat-alat komunikasi, demikianpun dalam bidang bioteknologi (rekayasa genetika) selalu ada yang mendukung dan ada yang menentang
Rekayasa genetika (teknologi rekombinan, kloning, transgenik) sampai saat ini juga masih menjadi masalah karena pertentangan cara pandang antar berbagai kalangan, mulai dari individu, kelompok, politikus, negarawan bahkan kalangan rohaniawan. Masalah utama bukan lagi pada teknologinya tetapi pada penerimaan masyarakat terhadap hasil-hasil rekayasa genetika. Apalagi masalah kloning manusia yang berhubungan langsung dengan kehidupan di bumi ini.
Seperti poling pendapat yang dilakukan oleh majalah Time dan CNN pada bulan Februari 2001, dimana hasilnya 90 % menyatakan bahwa kloning manusia merupakan ide yang buruk, bahkan 69 % menjawab bahwa kloning manusia melawan Tuhan. Sekalipun para ilmuan mengungkapkan bahwa kloning yang dilakukan bertujuan untuk penyembuhan penyakit (terapeutik), seperti keberhasilan perusahaan bioteknologi Advanced Cell Tecnology (ACT) Inc. dari Worcester, Massachusetts, Amerika Serikat, mengembangkan sel tunas (sel stem) menjadi sel tertentu untuk menggantikan jaringan tubuh yang terserang penyakit; tetapi tetap masih ada kontroversi antar berbagai kalangan.
Setidaknya, kekhawatiran tentang kloning manusia dilatarbelakangi oleh proses kloning yang dianggap melawan kodrat, karena dalam kloning itu akan menghasilkan individu yang sama, sekalipun beda generasi, menghasilkan individu “robot terminator” , perusak dan tidak berperasaan, dan menghasilkan individu sesuai kehendak manusia. Bukan kehendak Tuhan.
Masalah-masalah ini dikaji secara mendalam dalam bioetika. Kini secara universal sudah ada kesepakatan oleh semua bangsa seperti yang telah dikemukakan dalam Universal Declaration on the Human Genome and Human Rights, 1997. Apakah benar proses kloning menghasilkan individu yang sama?
Pengertian kloning yaitu : gen-gen yang direkombinasi dan di kembangkan. Kloning berasal dari kata “clone” yang diturunkan dari bahasa Yunani “klon” yang artinya potongan yang digunakan untuk memperbanyak tanaman. Kata ini digunakan dalam dua pengertian (1) klon sel adalah sekelompok sel yang identik sifat-sifat genetiknya, semua berasal dari satu sel. (2) klon gen atau molekuler adalah sekelompok salinan gen yang bersifat identik yang direplikasi dari satu gen yang dimasukan dalam sel inang (5)
Proses kloning manusia dapat digambarkan dijelaskan secara sederhana sebagai berikut : Pertama, Mempersiapkan sel stem : suatu sel awal yang akan tumbuh menjadi berbagai sel tubuh. Sel ini diambil dari manusia yang hendak dikloning. Kedua, Sel stem diambil inti sel yang mengandung informasi genetic kemudian dipisahkan dari sel. Ketiga, Mempersiapkan sel telur : suatu sel yang diambil dari sukarelawan perempuan kemudian intinya dipisahkan. Keempat, Inti sel dari sel stem diimplantasikan ke sel telur. Kelima, Sel telur dipicu supaya terjadi pembelahan dan pertumbuhan. Setelah membelah (hari kedua) menjadi sel embrio. Keenam, Sel embrio yang terus membelah (disebut blastosis) mulai memisahkan diri (hari ke lima) dan siap diimplantasikan ke dalam rahim. Ketujuh, Embrio tumbuh dalam rahim menjadi bayi dengan kode genetik persis sama dengan sel stem donor.
Dari pengertian kloning dan prosesnya di atas yang menghasilkan individu baru dan mempunyai sifat genetik yang “identik” (sama). Sifat “identik” inilah yang akan coba dibahas dalam koridor ruang – waktu proses kloning.
Reaksi-reaksi kimia = biokimia yang terjadi pada organisme berlangsung dalam batasan yang diberikan oleh ukuran sel dan ruang-ruang di dalamnya, juga oleh sifat-sifat fisik dan kimia yang sejalan dengan kehidupan sel. Terciptanya ruang-ruang pada waktu tertentu di dalam sel karena adanya materi-materi di dalamnya yang saling berinteraksi. Materi-materi itu yang menurut Alexander di atas merupakan hasil penggabungan-pengabungan kejadian-kejadian murni yang membentuk ruang-waktu. Materi-materi yang dimaksud disini adalah: quark, sub atom (electron, proton, netron), atom, unsur-unsur, molekul sederhana , makro molekul seperti DNA dan RNA yang menjadi penyusun gen-gen yang diwariskan di dalam sel-sel yang berkembang menjadi jaringan-jaringan, organ-organ makhluk hidup.
Pada setiap tingkatan materi di atas dalam interaksinya menghasilkan ruang-waktu dan sebaliknya adanya ruang-waktu karena adanya interaksi materi-materi, dimana menghasilkan sifat-sifat tertentu yang menjadi ciri materi itu. Apabila kita memandang sifat-sifat itu dalam konsep ruang–waktu menurut Newton, maka sifat-sifat itu bersifat mutlak (tidak berubah) sedangkan menurut Einstein, maka kita dapat mengatakan bahwa sifat-sifat itu adalah relatif.
Sifat relatif materi menurut Einstein, menyatakan bahwa ke 20 asam amino penyusun protein bukan hanya merupakan 20 unit penyandi, karena setiap asam amino dapat memberikan arti yang berbeda-beda pada protein, selanjutnya dikatakan bahwa kromosom dan gen bersifat tidak stabil dan bukan merupakan struktur inert, molekul-molekul ini dapat mengalami mutasi dan kadang-kadang menyebabkan gangguan serius pada fungsi biologi. Walaupun setiap spesies dipercaya tercipta secara khusus tetapi kenyataan menunjukkan bahwa di dalam spesies terdapat keragaman.
Apabila kita menarik lebih jauh ke belakang atau menguraikan materi (gen) menjadi unsur-unsur pembentuknya, kemudian unsur itu menjadi atom-atom dan memperhatikan reaksi kimia yang terjadi maka kita akan temukan berbagai sifat yang berbeda dari materi itu. Sifat yang berbeda disebabkan oleh elektron dalam atom unsur penyebab terjadinya reaksi kimia berada dalam “orbital” (kebolehjadian ditemukannya electrón) yang membuat struktur atom unsur-unsur unik. Karena dalam orbital , maka tidak diketahui di bagian mana (ruang-waktu mana) reaksi/interaksi itu terjadi; sehingga ada kemungkinan besar sekalipun unsur-unsur pembentuknya sama, tetapi dapat menghasilkan materi-materi yang mempunyai sifat yang berbeda.
Apalagi sementara /setelah ditemukan pasangan-pasangan gen manusia yang berjumlah sekitar 3 milyar tentunya dalam interaksinya misalnya dengan proses kloning, yang sekalipun diatur sedemikian rupa, akan tetapi pasti menghasilkan individu yang berbeda dengan induknya. Dari uraian diatas maka disimpulkan bahwa proses kloning tidak mungkin menghasilkan individu yang “identik” alias sama sehingga sangat sesuai dengan Kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.
http://ajianpeletdanpengasihan.blogspot.com

Refleksi Hati Dan Diri

REFLEKSI USIA 40

Alhamdulillah, saya masih diberi Yang Maha Hidup usia. Meski belum tua-tua amat, namun usia saya juga tidak bisa dikatakan muda lagi. Empat puluh tahun kurang dua merupakan jumlah yang bagi saya cukup miris dan berbahaya. Betapa tidak, hampir dua tahun lagi saya memasuki pintu gerbang tahap dimana Muhammad dulu menjadi nabi di usianya yang empat puluh tahun. Sebelumnya, Muhammad gigih untuk mengolah hidupnya dengan kesadaran yang tinggi bahwa suatu saat dia akan mendapat hidayah dan petunjuk untuk bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Konon, sebelum diangkat menjadi Nabi dan rasul, Muhammad selain sibuk dengan urusan bisnis mendampingi isterinya juga sibuk untuk melakukan olah batin, nyepi hingga di gua hira yang sunyi dan menakutkan.
Kenapa Muhammad begitu yakin bahwa suatu saat dia akan menemukan sesuatu yang dicarinya? Jawabannya adalah KEYAKINAN. Hanya keyakinanlah yang menuntun calon nabi terakhir ini untuk terus berpikir dan olah rasa. Menyatukan, menata dan merangkai gelombang-gelombang ketuhanan yang berserak di otaknya agar menjadi sirkuit yang dahsyat agar bisa terkoneksi dengan jaringan gelombang ketuhanan yang terpapar di alam semesta. Saya membayangkan nabi saat itu juga manusia seperti saya dan Anda, pembaca. Yang tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Apalagi Muhammad, si calon nabi ini konon tidak bisa baca tulis dan juga ngeblog, hehe he.. Tidak pernah mengenyam pondok pesantren, juga tidak punya pengalaman untuk berguru dengan pembimbing spiritual manapun. Apalagi dia juga tidak pernah melahap bangku sekolah dan kuliah. Meskipun begitu, Muhammad yang sangat minim pengetahuan dan informasi dunia luar ini jelas tidak tinggal diam dan bodoh menyikapi situasi sekelilingnya. Peradaban yang busuk dan kotor tidak membuatnya ikut-ikutan arus apalagi sampai larut. Tidak.. Muhammad adalah jenis manusia yang SIKAP TEGAS. Dia memiliki keberanian untuk berjalan, menjauh dan melihat ke bukit yang lebih tinggi. Membuat jarak terhadap masyarakat dan peradaban untuk kemudian bertekad untuk memperbaikinya.
Muhammad bukanlah orang yang bodoh. Dia orang yang jeli, telaten, kreatif dan jujur. Kejeliannya mengamati, menganalisa dan menyimpulkan gejala-gejala alam semesta pada akhirnya menuntunnya untuk mencari jawaban yang final, total dan selanjut-lanjutnya: Bahwa Tuhan hanya satu yaitu ALLAH SWT! Berbeda dengan para nabi lain yang harus mencari-cari jawaban SIAPA PENCIPTA SEJATI dengan cara membandingkan anasir yang satu dengan yang lain, Muhammad hanya pasrah dengan kehendak hati nuraninya bahwa PASTI ADA SATU PENCIPTA SEMESTA ALAM SEMESTA, entah apa namanya…. Akhirnya, pada suatu ketika di usianya yang empat puluh tahun tersebut: Muhammad dilantik menjadi nabi setelah mendapatkan wahyu yang intinya agar dia tidak berhenti untuk membaca. Membaca kitab yang tergelar di alam semesta yang di dalamnya ada milyaran bahkan trilyunan rumus Tuhan ini…. Wahyu yang turun itu menekankan pada satu hal penting: BACALAH DENGAN NAMA TUHANMU…
Jadi sekarang, Muhammad diperintahkan untuk tidak asal baca, melainkan MEMBACA DENGAN EMBEL-EMBEL: NAMA TUHAN. Apa ini artinya? Artinya, bahwa KEBENARAN SEJATI/MUTLAK akan bisa ditemukan apabila manusia membaca dalam frame bahwa semua yang dibaca, dipikir, dianalisa, disintesa tersebut semuanya adalah CIPTAAN ALLAH SWT. Itulah inti, dasar, substansi dari turunnya wahyu yang kemudian bertubi-tubi mendatangi Muhammad setelah dia menjadi utusanNya. LA ILAHA ILLALLAH, MUHAMMADAR RASULULLAH hingga akhirnya di usia yang enam puluh tiga tahun itu Muhammad dipanggil menghadap SANG KHALIK.
Bagaimana dengan saya? Apakah siap jadi nabi di usia menjelang empat puluh tahun ini? Rasa-rasanya tidak mungkin. Jangankan menjadi nabi, menjadi manusia saja saya merasa sangat sulit. Terus terang saya mengagumi mereka yang gagah menyertakan di depan namanya kata Camat, Bupati, Kepala Badan, Presiden, Kolonel, Profesor, Ulama, Kiai, Ustadz. Gelar itu di satu sisi itu adalah track record perjalanan kemuliaan, di sisi lain itu adalah perhiasan dunia yang sebenarnya permainan dan senda gurau.
Begitulah… sangat sulit menjadi manusia bila kita tanyakan: Adakah kaki telah melangkah sebagaimana yang dimaksudkan dulu oleh Peciptanya. Adakah tangan telah mengerjakan mendekati gagasan Pembikinnya. Adakah mata telah melihat, telinga telah mendengar, akal telah mengolah visi, ilmu dan wacana, mulut telah memakan segala sesuatu sesuai sang Konseptor ?. Dalam kamus, seseorang distempel Nabi karena nubuwah. Rasul karena risalah. Wali karena walayah. Dan adalah manusia karena khilafah. Keempat stempel itu milik Allah, dilimpahkan dan diamanahkan kepada makhluk dengan strata dan kualitas yang Ia bikin berbeda. Khilafah itu titipan atau pelimpahan bagi semua dan setiap manusia: tidak relevan, tidak rasional dan tidak realistis dan a-historis untuk diambil sebagai ‘icon’ suatu golongan.
Begitu kita bukan dimaksudkan Tuhan sebagai Malaikat, Iblis, Jin, hewan atau alam, maka kita Khalifah yang menyandang khilafah. Tugasnya adalah menghimpun ilmu, melakukan pemetaan, menyusun disain dan metodologi, menggambar dan mensimulasikan sistem dan managemen untuk memproduksi “rahmatan lil’alamin”. Bagaimana tugas manusia? Ternyata realitas berbeda dengan konsep awal.
Sejarah manusia dihiasi dengan pertumpahan darah yang terlalu banyak, dusta dan peperangan yang selalu berlebihan, kepalsuan yang bertele-tele, kebodohan ilmu dan kemandegan akal, kekerdilan mental dan kebutaan spiritual. Manusia tidak bisa disebut pernah sungguh-sungguh, konstan dan konsisten mempelajari Tuhan, setan, demokrasi, nafsu, kebenaran, kemuliaan, dan terutama mempelajari dirinya sendiri. Manusia melangkah serabutan, berpikir sepenggal, bertindak instan, menimbang dengan menipu timbangan…
Sekolah dan universitas tidak pernah benar-benar menyiapkan perjalanan tafakkur, tadzakur dan tadabbur melalui tahap-tahap pola berpikir linier, zigzag, spiral hingga thawaf siklus. Universitas hanya mewisuda Sarjana Fakultatif meskipun kampusnya bernama Universitas. Belum tuntas kaum muda menjadi murid — orang yang menghendaki ilmu–dipaksakan naik ke bangku kecongkakan dengan menggelari diri mahasiswa. Para pembelajar dan pencari ilmu bersemayam di ‘koma’ — begitu dia maha, finallah dan titiklah sudah perjalanan ilmiahnya.
Di manakah pintu ilmu? Pertanyaan ini sangat mungkin tidak menarik lagi bagi kaum terpelajar. Bagi kaum muda Indonesia, cukuplah belajar demokrasi, world class society, pilkada, clean government. Pemuda kita sepertinya semakin tak suka bila ditanya soal Tuhan sehingga mereka lebih memilih memenangkan Olimpiade Fisika dan cuek terhadap lautan lumpur yang meluap, situ yang jebol, tsunami, gempa sampai ke urat syaraf otak manusianya yang tumpul. Padahal kapasitas sistem saraf otak manusia itu takkan pernah sanggup dirumuskan atau dikuasai oleh si manusia sendiri. Pendaran-pendaran elektromagnetik CAHAYA ALLAH yang bertebaran bertaburan keseluruh permukaan bumi, memusat menggumpal di seputar bagian atas ubun-ubun kepala setiap manusia.
Hmmm…Siapakah yang tak sesat di antara kita? Makan saja sesat sampai kena kolesterol, asam urat, jantungan, gagal ginjal, ganti hati dan stroke. Kehidupan berbangsa dan bernegara kita adalah panggung demi panggung kesesatan nasional. Pemilu menjadi festival salah pilih wakil dan pemimpin. 240 juta manusia tersesat ke satu lorong cita-cita: mau kaya, eksis dan berkuasa. Jalannya beribu-ribu, profesinya berbagai-bagai, icon-nya berjenis-jenis, namun menuju satu lorong itu juga. Kesesatan sistem. Kesesatan moral. Kesesatan budaya. Kesesatan ilmu. Kesesatan bermacam-macam kesesatan, dengan kadar yang juga berbeda-beda. Sesat moral atau akhlak. Sesat hukum. Sesat sosial. Setiap keputusan ekonomi yang menjerumuskan orang banyak, policy politik yang kontraproduktif terhadap keharusan kemajuan dan pembangunan, adalah kesesatan yang nyata.
Diam-diam saya menemukan bahwa alhamdulillah kesesatan-kesesatan hidup saya tidak diketahui umum atau yang berwajib. Itu semua karena sampai usia menjelang empat puluh tahun ini, Tuhan memperkenankan saya menjadi orang yang tak diperhatikan, tak didengarkan, selalu diletakkan di luar garis-garis pemetaan dalam hal apapun saja. Segala yang saya dan kami lakukan, prestasi dan kualitas apapun saya tetap di luar peta. Maka tak pernah ada keberanian pada diri saya untuk mengajak orang lain, apalagi untuk meyakini apa yang saya yakini, untuk berpikir seperti saya berpikir, untuk menganut apa yang saya anut.. Pandanglah Allah, Muhammad, Yesus, Budha, Sang Hyang Widhi: take it or leave it. Atau tak usah memandang siapapun kecuali dirimu sendiri, kepentinganmu sendiri, sebagaimana Firaun. Engkau merdeka bahkan untuk menjadi Firaun. Itu urusanmu dengan Tuhan dan dirimu sendiri.
Semua Nabi dan Rasul, umpamanya Adam atau Yunus, hanya berani menyebut dirinya dholim, “Robbana dholamna anfusana”, “Inni kuntu minadh-dholimin”. Maka siapakah aku, sehingga mantap untuk tak melihat diriku tersesat? Kesesatan adalah milikku sehari-hari. Oleh karena itu mengaku diri manusiapun rasa belum pantas. Saya hanya ingin kita semua berdoa agar kita selalu menyadari kesesatan diri sendiri. Sebab berdoa adalah menyapa Allah. Kalau kita tiap saat minta-minta terus kepada Tuhan, menurut suatu logika berpikir: tak akan lebih dikasihi oleh Allah dibanding kalau kita rajin menyapaNya, rajin bercengkrama sama Dia, ‘mentuhankan’ Tuhan sebagaimana memanusiakan manusia. Tetangga lebih simpatik kepada kita yang suka menyapanya dibanding yang sering meminta-minta.
Di usia menjelang empat puluh ini, perkenankan saya memohon maaf atas perjalanan hidup saya yang banyak merepotkan Anda, menjegal Anda, saya yang sudah banyak mendebat kebenaran yang meluncur dari mulut Anda, saya yang sudah dendam dan mendamprat kejujuran Anda dan saya yang sudah banyak mencolong uang di dompet Anda. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnyA.
SALAM DAMAI DI BUMI, DAMAI DI LANGIT
http://ajianpeletdanpengasihan.blogspot.com

Rahasia Para Auliya Dalam Jiwa Yang Suci


RAHASIA PARA AULIYA DALAM IHSAN SEJATI

Sekaligus sebagai “bagian terpenting” dalam isi semua Rotib Rahmatullah Akbar ini
Cara Ihsan Sejati
A. IHSAN KE ALLAH
Tarik Nafas Baca Kalimat HU….. ( sedalam dalamnya kemudian Tanya Hati nurani bila sudah hati bilang cukup ) Ucapkan illahi anta maksudi wa ridlo kamatlubi.
Kemudian Berdoa;
YA ILLAHI, Bi ZATILLAHI AKBAR, Jadikan Zikir ini, Suaranya Bergema di seluruh NUR ALLAH, ( Cahaya Illahiah ) Hingga Tembus Ke seluruh ZAT ALLAH, danKekalkan Suara Gema ZikirMu dalam seluruh NURMU dan seluruh ZATMU
Agungkan dan Sempurnakan ZikirMu Seagung NUR ALLAH dan ZAT ALLAH
Abadan-Abadan-Abadan Fikulli Makan Wa Fikulli Zaman
Lahaula Wala Quwata Illa billahil Aliyil Adhiem
—- ALLAHUAKBAR —
( Ucapkan sambil berhakekat Suara ZikirMenembus menembus hati – menembus Nyawa, Menembus, Ruh, Menembus PemilikSegala Ruh , (Nur ALLAH hingga ZAT Allah) —
A.IHSAN KE DALAM SOLAWAT
Nama Siapapun dalam Semua Rosul-Rosul Allah dari nabi Adam Alaihi Salam , nabi Hidir Alaihi Salam nabi sampai Rosullullah ( SollAllahu ala Muhammad), beserta Ihsan ke seluruh Umatnya
Caranya sama yaitu
Ihsan ke Rosullullah ( SollAllahu ala Muhammad )
Contoh 1.
Tarik Nafas Baca Kalimat HU….. ( sedalam dalamnya kemudian Tanya Hati nurani bila sudah hati bilang cukup ) Ucapkan illahi anta maksudi wa ridlo kamatlubi.
Kemudian Berdoa;
YA ILLAHI, Bi ZATILLAHI AKBAR, Jadikan Zikir ini, Suaranya Bergema
dari hatiku , tembak terus menembus Hati Rosullullah, ( SollAllahu ala Muhammad ) terus menembus Ruh Rosulullah ( SollAllahu ala Muhammad )
Kemudian Tembuskan ke seluruh lahir dan bathinnya Rosulullah ( SollAllahu ala Muhammad )
Kekalkan Zikir ini , Indahkan dan sempurnakan Se-sempurna yang sanggup engkau lakukan dengan Qudratdan irodahMu
Abadan-Abadan-Abadan Fikulli Makan Wa Fikulli Zaman
Lahaula Wala Quwata Illa billahil Aliyil Adhiem
—- ALLAHUAKBAR —
Ihsan ke Nabiyullah Hidir Alaihi Salam
Contoh 2
Tarik Nafas Baca Kalimat HU….. ( sedalam dalamnya kemudian Tanya Hati nurani bila sudah hati bilang cukup ) Ucapkan illahi anta maksudi wa ridlo kamatlubi.
Kemudian Berdoa;
YA ILLAHI, Bi ZATILLAHI AKBAR, Jadikan Zikir ini, Suaranya Bergema
dari hatiku , tembak terus menembus Nabiyullah Hidir Alaihi Salam terus menembus Ruh Nabiyullah Hidir Alaihi Salam
Kemudian Tembuskan ke seluruh lahir dan bathinnya Nabiyullah Hidir Alaihi Salam
Kekalkan Zikir ini , Indahkan dan sempurnakan Se-sempurna yang sanggup engkau lakukan dengan Qudratdan irodahMu
Abadan-Abadan-Abadan Fikulli Makan Wa Fikulli Zaman
Lahaula Wala Quwata Illa billahil Aliyil Adhiem
—- ALLAHUAKBAR —
Ihsan ke seluruh Ummat Rosul-Rosul Allah
Contoh 3
Tarik Nafas Baca Kalimat HU….. ( sedalam dalamnya kemudian Tanya Hati nurani bila sudah hati bilang cukup ) Ucapkan illahi anta maksudi wa ridlo kamatlubi.
Kemudian Berdoa;
YA ILLAHI, Bi ZATILLAHI AKBAR, Jadikan Zikir ini, Suaranya Bergema
dari hatiku , tembak terus menembus Hati seluruh Ummat Rosul-Rosul Allah, terus menembus Ruh seluruhUmmat Rosul-Rosul Allah Kemudian Tembuskan ke seluruh lahir dan bathinnya seluruh Ummat Rosul-Rosul Allah sejak nabi Adam Alahi Salam hingga Rosullullah ( SollAllahu ala Muhammad )
Kekalkan Zikir ini , Indahkan dan sempurnakan Se-sempurna yang sanggup engkau lakukan dengan Qudratdan irodahMu
Abadan-Abadan-Abadan Fikulli Makan Wa Fikulli Zaman
Lahaula Wala Quwata Illa billahil Aliyil Adhiem
—- ALLAHUAKBAR —
Ihsan ke orang tua kita dan leluhur kita
Contoh 4
Tarik Nafas Baca Kalimat HU….. ( sedalam dalamnya kemudian Tanya Hati nurani bila sudah hati bilang cukup ) Ucapkan illahi anta maksudi wa ridlo kamatlubi.
Kemudian Berdoa;
YA ILLAHI, Bi ZATILLAHI AKBAR, Jadikan Zikir ini, Suaranya Bergema
dari hatiku , tembak terus menembus Hati Kedua Orang tuaku, terus menembus Nyawa Kedua Orang tuaku, terus Ruh Kedua Orang tuaku danakhirnya Tembuskan ke seluruh lahir dan bathinnya Kedua Orangtuaku
Kekalkan Zikir ini , Indahkan dan sempurnakan Se-sempurna yang sanggup engkau lakukan dengan Qudratdan irodahMu
Abadan-Abadan-Abadan Fikulli Makan Wa Fikulli Zaman
Lahaula Wala Quwata Illa billahil Aliyil Adhiem
—- ALLAHUAKBAR —
Ihsan ke Arwah hamba Allah ( Bp Mursyid )
( Si fulan itu misal Bernama Bp Mursyid )
Contoh 5
Tarik Nafas Baca Kalimat HU….. ( sedalam dalamnya kemudian Tanya Hati nurani bila sudah hati bilang cukup ) Ucapkan illahi anta maksudi wa ridlo kamatlubi.
Kemudian Berdoa;
YA ILLAHI, Bi ZATILLAHI AKBAR, Jadikan Zikir ini, Suaranya Bergema
dari hatiku , tembak terus menembus Hati Arwah hamba Allah ( Bp Mursyid ), terus menembus Ruh Arwah hamba Allah ( Bp Mursyid )
Kemudian Tembuskan ke seluruh lahir dan bathinnya Arwah hamba Allah ( Bp Mursyid )
Kekalkan Zikir ini , Indahkan dan sempurnakan Se-sempurna yang sanggup engkau lakukan dengan Qudratdan irodahMu
Abadan-Abadan-Abadan Fikulli Makan Wa Fikulli Zaman
Lahaula Wala Quwata Illa billahil Aliyil Adhiem
—- ALLAHUAKBAR —
Ihsan ke seluruh Rosul-Rosul Allah dan Ummat Rosul-Rosul Allah
Contoh 6
Tarik Nafas Baca Kalimat HU….. ( sedalam dalamnya kemudian Tanya Hati nurani bila sudah hati bilang cukup ) Ucapkan illahi anta maksudi wa ridlo kamatlubi.
Kemudian Berdoa;
YA ILLAHI, Bi ZATILLAHI AKBAR, Jadikan Zikir ini, Suaranya Bergema
dari hatiku , tembak terus menembus Hati seluruh Rosul-Rosul Allah dan seluruh Ummat Rosul-Rosul Allah, terus menembus Ruh seluruh Rosul-Rosul Allah dan seluruh Ummat Rosul-Rosul Allah Kemudian Tembuskan ke seluruh lahir dan bathinnya seluruh Rosul-Rosul Allah dan seluruh Ummat Rosul-Rosul Allah sejak nabi Adam Alahi Salam hingga Rosullullah ( SollAllahu ala Muhammad )
Kekalkan Zikir ini , Indahkan dan sempurnakan Se-sempurna yang sanggup engkau lakukan dengan Qudratdan irodahMu
Abadan-Abadan-Abadan Fikulli Makan Wa Fikulli Zaman
Lahaula Wala Quwata Illa billahil Aliyil Adhiem
—- ALLAHUAKBAR —
Catatan Penting
1.Ciri-Ciri Ihsan sudah 100% sampai adalah kita mempunyai rasa-perasaan yang membenarkan dan yang dapat berbicara dari dalam hati seakan-akan Zikir ini betul-betul bergema di seluruh Nur Allah dan Zat Allah di sertai rasa Nikmat yang gak bisa di ungkapkan yaitu rasa — Yang Nikmat Luar Biasa—
2. Ciri-Ciri Ihsan sudah100% sampai adalah kita mempunyai rasa-perasaan yang membenarkan dan yang seolah -olah dapat berbicara dari dalam hati seakan-akan Zikir ini betul-betul bergema di hati kita sendiri dan di hatiRosullullah, diseluruh hati para Rosul Allah dan seluruh Umatnya, termasuk semua maklukNya Allah di sertai rasa Nikmat yang gak bisa di ungkapkan yaitu rasa — Yang Nikmat Luar Biasa—
LALU DITUTUP SHOLAWAT INI
Bi’dzatillahi Akbar — Allahu Akbar—
Bismilahi Akbar — Allahu AKbar —
Allauhumma Solli ala Muhammad
Allahumma Solli ala Sayidina Muhammad SAW
Wa Ummati Sayidina Muhammad SAW
Allahumma Solli ala sayidina Hidir AS Wa Ummati Sayidina Hidir AS
Allahumma Solli ala Sayidina Adam AS Wa Ummati Sayidina Adam AS
Allahumma Solli ala Sayidina Idris AS Wa Ummati Sayidina Idris AS
Allahumma Solli ala Sayidina Nuh AS Wa Ummati Sayidina Nuh AS
Allahumma Solli ala Sayidina Hud AS Wa Ummati Sayidina Hud AS
Allahumma Solli ala Sayidina Soleh AS Wa Ummati Sayidina Soleh AS
Allahumma Solli ala Sayidina Ibrohim AS Wa Ummati Sayidina Ibrahim AS
Allahumma Solli ala Sayidina Lutz AS Wa Ummati Sayidina Lutz AS
Allahumma Solli ala Sayidina Ismail AS Wa Ummati Sayidina Ismail AS
Allahumma Solli ala Sayidina Ishaq AS Wa Ummati Sayidina Ishaq AS
Allahumma Solli ala Sayidina Yaqub AS Wa Ummati Sayidina Yaqub AS
Allahumma Solli ala Sayidina Yusuf AS Wa Ummati Sayidina Yusuf AS
Allahumma Solli ala Sayidina Ayub AS Wa Ummati Sayidina Ayub AS
Allahumma Solli ala Sayidina Sueb AS Wa Ummati Sayidina Sueb AS
Allahumma Solli ala Sayidina Harun AS Wa Ummati Sayidina Harun AS
Allahumma Solli ala Sayidina Musa AS Wa Ummati Sayidina Musa AS
Allahumma Solli ala Sayidina Ilyas AS Wa Ummati Sayidina Ilyas AS
Allahumma Solli ala Sayidina Ilyasa AS Wa Ummati Sayidina Ilyasa AS
Allahumma Solli ala Sayidina Zulkifli AS Wa Ummati Sayidina Zulkifli AS
Allahumma Solli ala Sayidina Dawud AS Wa Ummati Sayidina Dawud AS
Allahumma Solli ala Sayidina Yunus AS Wa Ummati Sayidina Yunus AS
Allahumma Solli ala Sayidina Zakaria AS Wa Ummati Sayidina Zakaria AS
Allahumma Solli ala Sayidina Yahya AS Wa Ummati Sayidina Yahya AS
Allahumma Solli ala Sayidina Isa AS Wa UmmatiSayidina Isa AS
Allahumma Solli ala Sayidina Muhammad SAW Wa Ummati Sayidina Muhammad SAW
Huukuki Wajibati Alaiya
Khususon Wa man huwa amilu hadihi Solawat Akbar
WAllahi-TAllahi-Billahi Laillaha illa Allah, Muhammadurrosullullah Haq
WAllahi-TAllahi-Billahi Nur Muhammad Haq
WAllahi-TAllahi-Billahi Nur Allah Haq
WAllahi-TAllahi-Billahi Zat Allah Haq
WAllahi-TAllahi-Billahi Al Mauta Haq, Wa Kursi Haq, Wa Arsy Haq, Wa Jannah Haq, Wa Nar Haq
WAllahi-TAllahi-Billahi
Bi’ Zatilahi Akbar, Bi’ridlollahi Akbar, Bi barokati solawat Akbar Nas’aluka
Mahabatan Akbar, Safaatan akbar, Wa Rohmatan Akbar, Wa Maqfirotan Akbar, Wa Salamatan Akbar, Wa Hafidollahu Akbar, Wa Rizkon Akbar Bi ghoiri Hisab, Wa KaromAllahu Akbar, Wa Ridlollah Akbar, Wa Nikmatan Akbar Bi ihsan bi zatillahi Wajhika Akbar, Wa Maqbulan
Abadan-Abadan-Abadan-Abadan
Fi kulli Makan Wa fi kulli Zaman
Kun Fayakun-Kun Fayakun-Kun Fayakun
—-Allahu Akbar—-   http://ajianpeletdanpengasihan.blogspot.com

Proses Mengalirnya Energi Ilahi Dalam Tubuh

PUASA

Saat puasa, badan kita terasa lemah lunglai tiada berdaya. Namun sesungguhnya rasakanlah saat itu justeru muncul energi Ilahi dalam diri. Sama seperti saat bahaya mengancam, tiba-tiba energi Ilahi muncul tiada terduga… Itulah energi kekuatan yang keluar saat kita pasrah total. Tanpa pasrah total, kita tidak akan pernah bisa didatangi oleh energi Ilahi.
http://ajianpeletdanpengasihan.blogspot.com/  “Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya” demikian bunyi hukum yang dirumuskan James Prescott Joule, seorang ahli fisika Inggris yang namanya diabadikan menjadi satuan energi tersebut.
Menurut Joule, hukum ini berlaku dalam seluruh aspek termasuk aspek kehidupan manusia. Aktivitas yang kita lakukan setiap hari merupakan perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Contohnya, saat kita makan, kita mengubah energi kimia dari makanan menjadi energi yang kita gunakan untuk bergerak dan berpikir. Energi tersebut tidak akan berubah saat kita diam.
Semua energi, kata Joule, hanya bisa diubah menjadi energi dalam bentuk lain misalnya energi gerak menjadi energi listrik seperti yang terjadi pada dinamo listrik. Dinamo berputar maka akan menghasilkan listrik. Atau sebaliknya yaitu energi listrik menjadi energi gerak seperti pada motor listrik.
Bahkan yang paling dahsyat yaitu perubahan energi menjadi masa seperti yang terjadi pada produksi pasangan yaitu ketika suatu energi yang besarnya minimal 1022 k eV mendekati medan inti akan bisa menjadi elektron dan positron (partikel bermasa).
Begitu juga sebaliknya perubahan masa menjadi energi bisa terjadi pada peristiwa anihilasi yaitu ketika elektron ketemu dengan positron, kedua materi tersebut saling meniadakan dan berubah ujud menjadi energi yang sebanding dengan masa dari kedua partikel tersebut sesuai dengan rumusan yang dibuat oleh Einstein.
Tuhan memang Maha Segalanya. Maha Pencipta, Maha Meniadakan, dan juga Maha Mengubah. Tuhan menciptakan alam semesta ini sekaligus hukum-hukum alam yang berlaku di dalamnya. Hukum-hukum alam yang diciptakan Tuhan ini kemudian dirumuskan oleh Archimedes, Newton, Schrodinger, Einstein dan lain-lain memang sudah satu paket dengan diciptakannya alam semesta sehingga dengan peristiwa-peristiwa alam yang terjadi manusia dapat belajar.
Sayangnya, belum semua hukum alam itu berhasil dirumuskan oleh manusia. Misalnya teori penciptaan alam hingga saat ini belum bisa diterangkan dengan hukum kekekalan energi ataupun hukum kekekalan massa.
Teori itu belum bisa menjelaskan sebab terjadinya alam semesta ini. Seluruh alasan akan buntu ketika ditanya apa yang menjadi permulaan dari semua ini. Tetapi bagi orang yang percaya bahwa ada kekuatan yang mampu menciptakan tanpa sebab akibat, maka itulah energi Ilahi yang mengatakan KUN FAYAKUN “Jadi maka Jadilah,” sumber awal mula energi di dunia ini.
 Siapa yang mampu menciptakan dan juga mampu memusnahkan energi? hanyalah Allah SWT, Tuhan yang Maha Pencipta. Kita manusia adalah ciptaan-Nya yang tentu saja tidak mungkin meraih kekuasaan yang dimiliki oleh-Nya tanpa kehendak-NYA.
 Andaikan misalnya manusia mampu menciptakan energi kemudian energi bisa diubah menjadi massa dan seterusnya, sehingga manusia dapat menciptakan tanah, menciptakan bumi menciptakan bintang dan sebagainya. Menurut logika manusia hal itu tidak mungkin.
 Tetapi tentu kita tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan bahwa ini semua sudah diatur Tuhan tanpa berfikir bagaimana cara Tuhan mengatur alam ini. Semestinya kita berfikir bahwa Tuhan memberikan kebebasan bagi manusia untuk memikirkan ciptaan-Nya. Kita juga bebas berfikir bagaimana cara Tuhan mengatur alam ini yang berjalan sesuai dengan aturan-aturan-Nya.
 Mengenai teori yang sekarang belum dapat dijelaskan atau bahkan tidak dapat dijelaskan janganlah terburu-buru putus asa dengan mengatakan bahwa ini pasti harus ada yang ditambahkan dari ketiadaan, atau ini pasti harus dihilangkan agar sesuai dengan rumus matematisnya. Masih ada alternatif lain yang mungkin juga belum terfikirkan. Diantara hitam dan putih masih ada berjuta warna pilihan dan di antara kebuntuan hidup ini, untung ada bulan kemuliaan Ramadhan….
 PUASA RAMADHAN DAN HADIRNYA ENERGI ILAHI
 Puasa Ramadhan adalah momentum kita semua untuk menghayati hakikat kekekalan energi. Bahwa tiada yang berkuasa dengan kuasa yang mutlak melainkan Allah SWT. Hatinya bersaksi, bahwa kekuasaan Allah SWT meliputi segala ada termasuk dirinya sendiri. Kekekalan ini terasa KETIKA KITA BERPUASA TIDAK MAKAN DAN MINUM, MENAHAN NAFSU MAKA YANG TERJADI ADALAH KUN FAYAKUN,  ENERGI ILAHI YANG LUAR BIASA DAHSYAT AKAN MENGALIR DALAM DIRI KITA. Dengan syarat, puasa kita adalah puasa yang betul.
 Puasa Ramadhan yang rata-rata terdiri dari 30 hari bisa dibagi menjadi tiga momentum. 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari ketiga. Pada 10 hari pertama kita mengoreksi diri dalam hal KESALAHAN OBYEKTIF mengenai makan dan minum. Kita kuat sesungguhnya bukan karena energi dari makanan dan minuman dan yang benar adalah kita kuat dan segar karena LA HAULA WA LA QUWWATA ILA BIL-LAH. Hakikat energi yang berasal dari makanan dan minuman itu sebenarnya hanya energi yang bisa terjadi atas perkenaan NYA semata.
Saat puasa, badan kita terasa lemah lunglai tiada berdaya. Namun sesungguhnya rasakanlah saat itu justeru muncul energi Ilahi dalam diri. Sama seperti saat bahaya mengancam, tiba-tiba energi kekuatan muncul tiada terduga… Itulah energi Ilahi yang keluar saat kita pasrah total. Tanpa pasrah total, ikhlas atau nrimo kita tidak akan pernah bisa didatangi oleh energi Ilahi. Maka pada saat puasa pula, biasanya merupakan saat terbaik untuk melakukan pemancaran energi Ilahi seperti mendoakan kesembuhan orang lain, kelancaran rezeki dan sebagainya.
 Dan sesungguhnya energi Ilahi itu sudah tersimpan di dalam Kitab-NYA berupa ayat-ayat kauniah yang tergelar di alam semesta ini. Tinggal sekarang apakah kita mampu membuka kuncinya atau tidak? INNA QUWWATIH, NAKABAN NATAH KITABAN NATAH.. WA INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAI’AN AN YAQULA LAHU KUN FAYAKUN.
 Pada 10 hari kedua yaitu hari kesebelas hingga hari kedua puluh bulan Ramadhan, kita koreksi kesalah pahaman mengenai pembuangan tenaga. Bahwa kita tidak lah membuang tenaga melainkan justeru kembali ke NAFSIN WAHIDATIN. Alastu birabbikum, kalu bala syahidna (QS 7:172) yaitu Janji Kawula Gusti.
 Dan yang the best of all terjadi pada 10 hari ketiga yaitu hari kedua puluh satu hingga selesai bulan Ramadhan yaitu saat terjadinya LAILATUL QADAR. Yaitu teraksesnya ENERGI ILAHI oleh kesadaran ruhani kita seperti 1000 energi cahaya bulan yang menjadi satu dalam satu momentum beserta kepastian Furqoni 82 tahun yaitu energi LA ILAHA ILAL-LAH.
 Allah SWT yang menganugerahkan energi pada manusia agar dengan energi yang dimilikinya itu dia memiliki sedikit kuasa untuk berusaha dan berbuat. Namun perlu diingat bahwa kuasa dan upaya tersebut tentunya hanya “pinjaman” yang akan “kembali” kepada Yang Punya Kuasa.
 Menyelami makna LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH (Tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah) dalam dirinya. Ungkapan tauhid ini mengandungi rahasia bahwa Tuhanlah yang Memiliki Semua Energi di alam semesta ini. Tiada satu pun energi kecuali berada di dalam kekekalan energi-NYA.
 Kita makan dan minum untuk mencari sumber tenaga. Sumber tenaga dari makan dan minuman yang kita konsumsi sesungguhnya berasal dari tanaman, tumbuhan dan hewan. Mereka mendapat energi dari rantai makanan lain begitu seterusnya hingga akhirnya bermuara pada satu sumber energi yang tidak berasal dari sumber energi lain, yaitu Energi Ilahi.
 Mereka yang tenggelam dalam lautan penyaksian wahdah (kesatuan sifat-sifat Allah) pasti menghayati bahwa manusia dan seluruh alam ini tidak pernah terlepas daripada kekuasaan Allah SWT. Maka, dia merasa harus menghambakan dirinya dan memilih untuk mentaati-Nya.
 Tidak mudah untuk menemukan rumusan rahasia ini. Kita bisa berteori namun umumnya belum sampai pada pemahaman yang sesungguhnya. Mata, telinga dan hati kita masih terhijab dan hakikat hukum kekekalan energi Allah SWT belum mampu kita temukan. Kita masih menganggap bahwa yang berperanan dalam memberi manfaat dan menolak kemudaratan adalah dirinya sendiri dan makhluk-makhluk di sekitarnya.
 Kita yang lalai itu terhijab dengan perbuatan Allah (af’aal) melalui makhluk-makhlukNya (infi’al) sehingga gagal menghayati makna sebenar wujud seluruh makhluk.  Kita terhijab dalam kepompong hukum sebab akibat sehingga tidak dapat menghayati konsep qudrat (kekuasaan), iradah dan ilmu Allah.
 Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada kita sebagai berikut: KUNCI SEBENARNYA MENGAKSES ENERGI ILAHI YAITU MENGAKUI KEKUASAAN ALLAH SWT DENGAN CARA MENGAKUI KELEMAHAN DIRI DI HADAPAN-NYA SEBAGAIMANA MUSA AS YANG TERSUNGKUR DI BUKIT SINAI. ATAU BERSUJUDNYA SEORANG MUSLIM DENGAN SUNGGUH SUNGGUH SUJUD SAAT SHOLAT. KEYAKINAN INI JIKA DITERJEMAHKAN DALAM DIRI SESEORANG MAKA DIA AKAN MENGHADAPI KEHIDUPAN INI DENGAN PENUH KEPASRAHAN, NRIMO, IKHLAS, KETERGANTUNGAN HATI HANYA KEPADA-NYA TANPA RASA KEBIMBANGAN SEDIKITPUN.
 Apa yang dia laksanakan adalah apa yang dituntut oleh Allah. Mereka tidak perlu risau soal hasil karena sudah ada jaminan kepastian atas dirinya. Namun, tatkala mengetahui bahwa hanya Allah yang Maha Berkuasa dalam kehidupan ini, maka dia pun tidak bermalas-malasan dan sebaliknya akan “berusaha” sekeras mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
 Allah menugaskan agar kita berusaha dalam rangka menunaikan tugas penghambaan diri. Usaha yang kita lakukan sebenarnya telah diperintahkan oleh Allah dan ini kita lakukan dalam rangka penyempurnaan ibadah. Kita dilarang keras jadi pemalas! Karena kewajiban kita adalah melaksanakan ibadah khusus (syahadat, sholat, zakat, puasa dan sebagainya) dan ibadah umum (mencari rezeki, beramal kebajikan demi kesejahteraan semua makhluk hidup, melestarikan alam sekitar dan sebagainya).
 ENERGI ILAHI YANG KEKAL ABADI
Ada satu fenomena yang bila kita memikirkannya kita akan menyebut ALLAHU AKBAR.. aneh tapi nyata.. yaitu tentang cahaya. Di dalam QS An Nur 35 menjelaskan: “Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah ibarat misykat. Di dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu ada di dalam kaca. Kaca itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di timur atau di barat. Yang minyaknya hampir menyala dengan sendirinya walaupun tiada api menyentuhnya. Cahaya di atas Cahaya! Allah menuntun kepada cahaya-NYA, siapa saja yang ia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah mengetahui segalanya.”
 Kenapa Allah SWT mengidentifikasikan diri-Nya dengan perumpamaan Cahaya Maha Cahaya? Jawabannya adalah cahaya tidak pernah kehabisan energi.
 Ada anggapan sementara kaum ilmuwan di dalam Teori Einstein bahwa cahaya akan kehilangan energinya ketika meninggalkan medan gravitasi yaitu dengan bergeser warnanya ke arah warna merah dengan panjang gelombang yang lebih panjang. Yang dimaksud kehilangan energinya adalah bukan dalam artian benar-benar hilang, tetapi energinya berkurang dengan mentransferkan energinya menjadi bentuk yang lain.
Cahaya ketika meninggalkan gravitasi (meninggalkan bumi) akan dibelokan dan terurai karena adanya perbedaan tekanan udara, seperti halnya cahaya ketika dilewatkan pada sebuah prisma. Disini tidak ada energi yang hilang.
Di dalam fisika, cahaya atau gelombang elektromagnetik adalah sebuah panjang gelombang tertentu yang dipancarkan dari sumber dengan gravitasi yang lebih kuat, yang terpancar menuju area dengan gravitasi yang lebih rendah. Pengamat akan melihat bahwa panjang gelombang yang diterimanya akan menjadi lebih besar (frekuensi lebih rendah, energi lebih rendah), itu yang disebut fenomena gravitational redshift.
Tetapi jangan buru-buru mengatakan bahwa cahaya tersebut kehilangan energi. Untuk hal yang seperti ini (dalam orde cahaya) kita harus menggunakan hukum relativitas, dan tidak bisa menggunakan fisika klasik.
Fenomena ini mirip dengan ketika ada dua orang, yang satu tinggal di bumi dan satunya naik pesawat dengan kecepatan yang mendekati cahaya. Kedua orang tersebut mengukur panjang sebuah benda yang diam dibumi, hasil yang tampak adalah akan memperlihatkan bahwa hasil pengukuran mereka berbeda. Ini tidak bisa dipahami dengan fisika klasik tapi bisa dipahami menggunakan hukum relativitas.
Pada gravitational redshift tidak ada energi yang hilang, hanya ada perbedaan pengamatan akibat beda tempat, perbedaan tersebut harus dilihat secara relativistik (menggunakan hukum relativitas) jadi tidak ada yang hilang dan tidak ada yang aneh.
Hukum relativitas tidak pernah mengatakan bahwa kita bisa mundur ke masa lampau, itu hanya terjadi pada film fiksi saja. Tetapi menurut hukum relativitas bahwa waktu memang bisa molor tergantung dari posisi pengamatnya. Fenomenanya bisa diamati salah satunya yaitu ketika foton dari cahaya matahari bergerak menuju bumi, waktu menjadi relatif bagi si foton.
Masih di dalam fisika bahwa semua partikel (apapun itu jenisnya) tidak bisa bergerak dengan kecepatan melewati 3 x 10^8 m/s (kecepatan cahaya). Mungkin itu sudah dibatasi oleh yang menciptakan alam ini. Kalau ada partikel yang mampu bergerak dengan kecepatan melampaui kecepatan cahaya persamaan relativitas menjadi tidak terdefinisikan. Jika kita naik pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap bumi, kemudian kita menembakan peluru pada arah yang sama dengan pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap pesawat, maka kecepatan peluru terhadap bumi tidak menjadi 1,5 C.
 Barangkali itu sebabnya, Allah SWT membuat perumpamaan dirinya dengan Cahaya Maha Cahaya… Sebab cahaya-NYA tidak pernah kehabisan energi dimana pun dan sampai kapanpun. Energi Ilahi sebagaimana tercermin dalam energi dalam hukum fisika, akan kekal abadi sepanjang masa dan kita akan bisa mendapatkannya kapanpun kita inginkan asal punya niat dan kemauan. Mari kita berproses bersama menuju kesempurnaan… Selamat berpuasa Ramadhan.
 
 
Blogger Templates